Kenduri Literasi (1)

Yogyakarta (29/10) Sudah berkali-kali saya menyambangi Taman Bacaan Masyarakat Gelaran iBoekoe. Hampir setiap menyambangi TBM yang dilurahi oleh Faiz Ahsoul ini selalu saja ada mendapatkan pencerahan. Kali ini hasrat saya sangat tidak terbendung untuk datang di acara yang diberi tajuk Kenduri Literasi pada 28 Oktober 2012 malam, tepat pada hari peringatan Sumpah Pemuda.

Kenduri Literasi (3)

 

 

 

Hasrat saya menjadi tidak terbendung bukan karena ada kenduri yaitu makan tumpeng bersama, dan bukan karena dihadiri oleh Kang Herry Zudianto mantan Walikota Yogyakarta yang sekarang rela menjabat sebagai Ketua RW, bukan juga karena dihadiri oleh Yuni Satia Rahayu Wakil Bupati Sleman. Namun ingin mendengarkan dan melihat langsung presentasi program literasi dengan sentuhan teknologi informasi dan komunikasi oleh komunitas Taman Bacaan Masyarakat atau lebih tepat disebut komunitas literasi.

Kenduri Literasi (4)

 

Secara kebetulan lurah TBM iBoekoe, Faiz Ahsoul, baru saja didaulat menjadi Bidang Penelitian dan Pengembangan DPP Himpunan Penggiat Teknologi Informasi dan Komunikasi PNF (HPTIK PNF). Karena itulah hasrat saya semakin besar untuk ikut kenduri. Apalagi Faiz Ahsoul adalah satu-satunya pengurus dari elemen TBM yang duduk di DPP HPTIK PNF. Selama ini ada anggapan dari sebagian besar kalangan penggiat PNF, pengelolaan TBM jauh dari sentuhan TIK.

Acara kenduri literasi dimulai dengan gowes atau bersepeda dari titik nol kota Yogyakarta mengelilingi Beteng Kraton Yogyakarta. Terlihat pula Kang Herry Zudianto, mantan Walikota Yogyakarta yang juga disebut sebagai Bapak Sepeda Yogyakarta, ikut dalam rombongan besar gowes. Di antara rombongan Gowes atau Boekoe Bike (dibaca buku baik) juga terdapat sepeda buku. Yaitu jenis sepeda roda tiga yang menggendong kotak berisi buku yang siap mengunjungi pembaca dari kampung ke kampung.

Setelah berkeliling Beteng Kraton satu kali searah jarum jam, rombongan Boekoe Bike menuju titik finish. Ketika sampai titik finish yaitu di TBM iBoekoe Kang Herry disambut hangat oleh sesama Ketua RW, yaitu Sofyan Ketua RW 05 Patehan. Sofyan yang adik angkatan saya ketika SMA, berkelakar “Sekarang jabatan saya sama dengan Kang Herry”. Sehabis gowes, peserta bisa menikmati hidangan jajanan pasar dari angkringan boekoe.

Kenduri Literasi (7)

Saat Kang Herry menyampaikan kata sambutan, beliau menyatakan akan membantu satu unit sepeda buku dengan harapan agar dapat menjangkau lebih banyak pembaca di kampung-kampung sekitar Patehan, dan Yogyakarta pada umumnya. Sontak pernyataan itu disambut dengan rona wajah yang berbinar-binar dari komunitas literasi iBoekoe.

Kenduri Literasi (5)

Pada kenduri literasi malam itu juga ditandai dengan peluncuran meja arsip. Meja arsip adalah alat digitalisasi arsip berupa koran hingga ukuran A0. Ukuran yang demikian umum kita temukan pada koran-koran yang terbit sepanjang abad 20. Kalau menggunaan alat scanner untuk ukuran A0 akan merogoh kocek yang sangat dalam untuk memilikinya. Karena itulah Gus Muh menggagas meja arsip yang berupa meja dan di atasnya dipasangi kamera digital resolusi tinggi. Kamera dihubungkan langsung dengan laptop yang akan merubah file format jpg menjadi pdf. Meja arsip adalah ikhtiar mengubah arsip cetak dalam dunia analog menjadi file-file dalam dunia digital. Dalam konteks komunitas, meja arsip adalah piranti digitalisasi koran pertama yang dipunyai komunitas literasi.

Kenduri Literasi (6)

Meja arsip yang boleh dikatakan sebagai teknologi tepat guna scanner karena tidak memerlukan biaya tinggi. Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu tertarik dengan alat yang dipresentasikan oleh penggagasnya, Gus Muh. Yuni bahkan akan mendorong Perpustakaan Daerah Sleman untuk mengadopsi teknologi tepat guna tersebut.

Peluncuran berikutnya yang bernuansa teknologi informasi dan komunikasi adalah Radio Buku. Radio Buku didirikan bukan sebagai radio biasa, melainkan radio pengarsip suara. Terutama sekali suara-suara literasi dari beragam kalangan: penulis, pembaca, penerbit, komunitas, perpustakaan, dan sebagainya. Sebagai radio arsip, suara-suara yang direkam dengan baik kemudian disimpan dan dibagi kepada publik yang berminat dalam bentuk Compact Disc (CD). Sebagaimana jargon Radio Buku, “Mendengarkan Buku”, Buletin Suara Buku juga punya jargon serupa, yakni “Buletin yang didengarkan”.

Pada acara kali ini, diluncurkan 10 Volume Buletin Suara Buku yang bisa dilihat di warungarsip.co-Suara Buku.

Kenduri Literasi (8)

Acara diakhiri diskusi yang disiarkan langsung oleh radiobuku secara streaming dengan narasumber utama Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu.

Kenduri Literasi