Homeschooling Jalur Pendidikan Informal atau Pendidikan Nonformal?

homeschoolingYogyakarta (19/05) Pelaku homeschooling atau sekolahrumah senantiasa mendeklarasikan dirinya sebagai pelaku pendidikan informal, bukan pendidikan nonformal apalagi pendidikan formal. Pengkategorian diri ke dalam bentuk pendidikan informal ini sebenarnya perlu dikaji ulang, mengingat ditinjau dari sisi akademik maupun yuridis sekolahrumah sebenarnya bukanlah murni  pendidikan informal.

Simak saja pandangan Phillip H Coombs (1984) yang menyatakan pendidikan informal adalah pendidikan yang tidak terprogram tidak berstuktur, berlangsung kapan pun dan dimana pun juga. Kemudian pakar pendidikan sosial, kalau boleh saya sebut demikian, yaitu Sanapiah Faisal (1981) menyatakan bahwa pendidikan informal, sama sekali tidak terorganisasi secara struktural, tidak terdapat penjejangan kronologis, tidak mengenal adanya kredensials, lebih merupakan hasil pengalam belajar individual-mandiri, dan pendidikannya tidak terjadi di dalam “medan interaksi belajar mengajar buatan” sebagaimana pada pendekatan formal dan non formal.

Nah, ketika orangtua melakukan sekolahrumah bagi anaknya memang benar dilakukan dalam lingkungan keluarga yang dinyatakan sebagai salah satu locus dalam konsep tripusat pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Namun demikian karena proses pembelajaran pelaku sekolahrumah dilakukan dengan terencana, artinya dilakukan secara terprogram dan terstruktur serta ada medan interaksi belajar buatan. Hal ini bisa dipahami karena sekolahrumah sejatinya mengacu pada materi sekolah formal, hanya mata pelajaran dan materi dirancang serta dipilih oleh orang tua.

Saya pikir tidak ada pelaku sekolahrumah yang melakukan pembelajaran tidak secara terencana, walaupun anak diminta untuk belajar mandiri. Apalagi sekolahrumah yang mengacu pada penempuhan jenjang SD/SMP/SMA.

Jadi secara akademik, pemahaman bahwa sekolahrumah adalah bentuk pendidikan informal gugur. Pemahaman sekolahrumah sebagai bentuk pendidikan informal jangan hanya dipandang dari segi locusnya di lingkungan keluarga, namun juga harus ditinjau dari sisi pengorganisasian belajarnya.

Salah satu ciri lain pendidikan informal yang dikemukakan Malcolm Knowles (1950) pendidikan informal berjalan secara spontan. Sudah barang tentu pembelajaran sekolahrumah tidak dilakukan secara spontan, tapi ada perencanaan pembelajaran apa pun itu bentuknya.

Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengatur pendidikan informal sebagai kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Pemahaman belajar secara mandiri tidak sekedar memilih anak diajar sendiri oleh orang tua dan tidak menitipkan atau menyerahkan proses pendidikan kepada sekolah. Pemahaman belajar secara mandiri lebih pada belajar otodidak, yaitu belajar sendiri tanpa bantuan guru atau orang lain. Sejatinya proses pembelajaran pada sekolahrumah tidaklah murni otodidak, apalagi pada anak usia jenjang Sekolah Dasar. Anak-anak pesekolahrumah masih memerlukan bimbingan orang lain, paling tidak orang tuanya.

Apalagi pesekolahrumah mendatangkan guru les ke rumah, dalam hal ini sudah tidak lagi belajar mandiri dalam konteks pasal 27 ayat (1) tersebut di atas.

Pendekatan sekolahrumah memiliki rentang yang lebar antara yang sangat tidak terstruktur (unschooling) hingga yang sangat terstruktur seperti belajar di sekolah (school at-home). Di Indonesia masih sedikit yang menggunakan pendekatan unschooling, rata-rata berorientasi terstruktur sebagaimana dilakukan oleh sekolahrumah komunitas atau lembaga penyelenggara homeschooling.

Orang tua kebanyakan menggunakan pendekatan unit studies approach yaitu model pendidikan yang berbasis pada tema (unit study). Dalam pendekatan ini, anak tidak belajar satu mata pelajaran tertentu (matematika, bahasa, dan sebagainya), tetapi mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus melalui sebuah tema yang dipelajari. Metode ini berkembang atas pemikiran bahwa proses belajar seharusnya terintegrasi (integrated), bukan terpecah-pecah (segmented). Nah pada proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ini tidaklah mungkin dilakukan secara informal atau spontan tapi direncanakan serta ada medan interaksi belajar buatan. Dan bukan secara otodidak, karena ada orang tua atau guru les yang membimbing.

Oleh karena itulah, kiranya deklarasi bahwa sekolahrumah adalah bentuk pendidikan informal perlu dikaji ulang. Masih tepatkah sekolahrumah adalah bentuk pendidikan informal. Terlebih jika sekolahrumah sudah dikoordinasi oleh komunitas atau lembaga penyelenggara sekolahrumah yang kini menjamur di berbagai kota Indonesia.

Saya berpendapat bahwa sekolahrumah adalah bentuk pendidikan nonformal. Hakekatnya sekolahrumah adalah program pendidikan kesetaraan dalam bentuk layanan alternatif. Karena semua pesekolahrumah harus menempuh ujian nasional pendidikan kesetaraan jika ingin mendapatkan pengakuan kesetaraan ijazah.

Bahkan pada era Direktorat Pendidikan Kesetaraan masih hidup segar bugar, dinyatakan dalam salah satu panduan program pendidikan kesetaraan, sekolahrumah dinyatakan sebagai salah satu bentuk diversifikasi layanan pendidikan kesetaraan. Jadi sebenarnya sekolahrumah pendidikan nonformal juga. Karena terstruktur dan berjenjang, hanya locusnya saja yang di keluarga.

4 tanggapan pada “Homeschooling Jalur Pendidikan Informal atau Pendidikan Nonformal?”

  1. Pendekatan unschooling biasa dilakukan oleh keluarga2 pelaku homeschool yang usia anaknya masih di bawah 10 th. Ketika menjelas usia 10 athun atau lebih, biasanya barulah keluarga2 tersebut mulai memikirkan kebutuhan akan ijazah sehingga berubah menjadi school at home.
    walau pun tidak dapat mewakili pelaku homeschool di seluruh Indonesia, namun setidaknya pola seperti inilah yang saya amati terjadi di kalangan pelaku homeschool. Itu pula yang terkadang menyebabkan perbedaan pendapat ttg kebutuhan akan ijazah dan tidak.
    Tidak saya pungkiri, bahwa ada kelompok pelaku homeschool yang menyatakan diri out of system…. sama sekali tidak berpikir akan membutuhkan ijazah. Tapi sebagian pelaku unschooling, banyak yang kemudian berpikir lain seperti penjelasan saya di atas, setelah usia anaknya menjelang usia tamat SD.
    inilah fakta di lapangan. (yang saya ketahui)

  2. Pesekolahrumah memang digiring masuk ke non formal, karena untuk memperoleh pengakuan negara, mereka harus mengikuti UN Pendidikan Kesetaraan. Dan salah satu syarat pendidikan kesetaraan adalah adanya nilai rapor yang diberikan oleh lembaga pendidikan non formal.

    Tetapi sejatinya dalam UU Sisdiknas tidaklah demikian. Tiap keluarga, sendiri atau berkomunitas berhak untuk mendidik anak-anak mereka sendiri secara mandiri, tanpa harus bergabung dengan lembaga non formal atau lembaga formal.

    Mereka bebas menggunakan program pendidikan mana yang mereka anggap terbaik, tetapi jika ingin pengakuan negara maka pesekolahrumah harus mengikuti program pembelajaran sesuai dengan standar pendidikan kesetaraan.
    Itu saja sebenarnya.

  3. pengertian mandiri harus lebih dijabarkan dalam undang-undang agar tidak ada pengertian individu yang berbeda-beda. Homeschooling(sekolah rumah) pada dasarnya adalah sebuah model pembelajaran bisa diterapkan di formal, nonformal dan informal. diversifikasi yang diterapkan pada saat ada dirjen kesetaraan dengan membagi Homeschooling menjadi 3 jenis yaitu homeschooling tunggal ( Homeschooling oleh 1 keluarga), homeschooling majemuk ( Homeschholing oleh 2-10 keluarga) dan Homeschooling Komunitas (homeschooling >dari 20 keluarga)dan biasanya homeschooling komunitas sudah menyusun pembelajaran yg terstruktur dan terprogram serta ada ijin dari pemerintah dalam bentuk PKBM atau LKP. malah beberapa dinas pendidikan sudah mengeluarkan ijin khusus Homeschooling tetapi telah memenuhi prosedur dan syarat2 yg ditetapkan oleh dinas pendidikan.

  4. kalau istilah di orang Barat informal school itu mengacu pada bahasa “after school” seperti yg saya baca di sini. Ini memperjelas term yang dikemukakan Pak Fauzi bahwa sekolah rumah sekarang ini tidak melulu sekolah informal karena adanya upaya yg terprogram seprti adanya binaan guru, adanya ujian dll. sehingga masuk pendidikan non formal dan bisa ikut ujian kesetaraan.

    kesan saya kok informal school atau after school program itu sejenis penguat pendidikan sekolah jadi semacam les privat, pendidikan pelengkap yg subyeknya itu sendiri sebenarnya sedang melakukan proses pembelajaran di sekolah..

Komentar ditutup.