18-Pilpres-OKYogyakarta (08/07) Pelaksanaan Pilpres tinggal menghitung jam. Ekskalasi suhu politik meningkat tajam selama kampanye dan masih tersisa selama masa tenang. Masyarakat Indonesia seakan terbelah menjadi dua kubu, jika tidak diikuti dengan jiwa besar untuk mengalah maka Indonesia terancam kisruh berkepanjangan. Ini ujian besar bagi bangsa Indonesia!

Lihat saja berbagai elemen masyarakat kini mulai terbelah menjadi dua, tidak hanya politisi, tetapi juga akademisi, aktivis, pengamat, budayawan, purnawirawan, ormas, pers, artis, dan tokoh agama. Ada akademisi pro capres satu dan ada akademisi pro capres lainnya, berbagai pandangannya ditayangkan oleh media tv yang mendukung masing-masing pasangan calon.

Purnawirawan TNI juga terbelah dalam pilpres kali ini. Polarisasi purnawirawan ini semakin tajam karena dua kubu purnawirawan saling serang. Tak kalah dengan purnawirawan, elemen aktivis 98 pun terbelah dalam dukung mendukung capres.

Pers pun kini juga sudah terkooptasi dalam polarisasi pencapresan, tidak hanya media cetak namun juga media televisi dan media online. Masyarakat kini sulit mencari media massa yang bebas dari kooptasi kubu capres. Media massa telah menjadi alat proganda politik.

Ketika pilihan presiden langsung masuk babak final yaitu menghadapkan dua calon, polarisasi masyarakat akan terbentuk lebih dini dan lebih meruncing. Jika masyarakat tidak dewasa, maka proses pilpres akan terganggu.  Di samping elemen masyarakat di atas, tokoh agama pun sudah terbelah menjadi dua menjelang pilpres ini.

Kedewasaan masyarakat dalam pilpres kali ini diuji, oleh karena itu kata kuncinya adalah dua: pertama hargai pilihan orang lain terhadap pasangan calon manapun, kedua hargai hasil pilpres. Misalnya ada ketidakpuasan terhadap hasil pilpres selesaikan dengan menempuh jalur hukum. Jangan mengambil tindakan anarkis yang justru akan merugikan kehidupan bangsa dan negara.