kraton yogyaKeraton Yogyakarta adalah sebutan lazim masa kini. Nama resminya adalah Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ada beberapa pendapat tentang sebutan “ngayogyakarta”. Kata “ngayogyakarta” terilhami nama kerajaan Ayodya dalam kisah Ramayana. Ayodya adalah kerajaan makmur, indah dan damai dipimpin seorang raja arif bijaksana bernama Ramawijaya. Dugaan ini bukan tanpa alasan. Pangeran Mangkubumi amat terkesan cerita Ramayana yang mengajarkan Asthabrata. Dengan semangat Asthabrata itulah sang raja memimpin Negeri Ayodya. Sejak muda Pangeran Mangkubumi menghayati semangat Asthabrata. Kini sesudah menjadi raja, Mangkubumi ingin mewujudkan negeri impian itu dalam kenyataan kerajaannya.

Pendapat lain, Ayodya adalah sebutan baru peristirahatan Garjitawati yang dibangun oleh Sunan Amangkurat IV. Kemudian Sunan Paku Buwana II mengganti nama menjadi Ayodya. Selain untuk pesiar, pesanggrahan ini untuk menyemayamkan jenazah keluarga raja Surakarta saat perjalanan menuju pemakaman Imogiri. Taman Garjitawati ini rusak berat akibat perang, tetapi dibangun kembali oleh Mangkubumi sejak Januari 1754. Rupanya setahun sebelum Perjanjian Giyanti Februari 1755, Mangkubumi telah memperhitungkan segala kemungkinannya. Pesanggrahan Ayodya kelak kemudian dikembangkan menjadi istana Keraton Ngayogyakarta hingga sekarang ini.

Ada pula pendapat yang menafsirkan kata “ngayogyakarta” berasal dari kata “yogya” dan “karta”. Yogya berarti baik, bagus, layak, pantas dan karta berarti  makmur, sejahtera. Oleh sebab itu Yogyakarta banyak diartikan sebagai kerajaan yang baik dan sejahtera. Sedangkan “nga” merupakan awalan yang memberikan makna hendaknya, mengarah atau menjadi. Adapun “Hadiningrat” artinya “dunia yang agung, luhur serta mulia” atau “yang agung, luhur serta mulia di muka bumi”. Ngayogyakarta Hadiningrat  merupakan harapan semoga menjadi kerajaan yang baik dan makmur, sejahtera dan teladan utama di muka bumi.

Adalah sebuah cita dan citra kerajaan sebagai wujud dunia kecil yang agung, mulia penuh kebaikan dan kesejahteraan bagi seluruh bangsa manusia dan alam semesta di muka bumi yaitu dunia dunia besar yang lebih luas.  Oleh karena itu gelar yang dipilih adalah Hamengku Buwana. Sebagai raja, ia bertekad dan merasa bertanggung jawab atas terwujudnya tatadunia baru yang damai, makmur dan sejahtera. Seluruh tekad, semangat dan tindakan Hamengku Buwana I terkenal dalam ungkapan pandangan hidup Hamemayu Hayuning Bawana. Semakin mewujudkan dan melestarikan keselarasan dan keindahan alam serta kedamain, kesejahteraan dan keluhuran martabat manusia.

Mendirikan sebuah kerajaan berarti mendirikan suatu negara. Pengakuan negara lain dan kekuatan militer sudah diperoleh. Harus dibangun pula sendi-sendi kekuatan ekonomi, tatanan politik dan pemerintahan, pranata sosial, lingkungan hidup dan bentuk-bentuk kebudayaan lainnya. Sebagai Kasultanan, tradisi-tradisi keagamaan Islami dipelihara. Namun, kerohanian Jawa juga dikembangkan dengan sentuhan-sentuhan baru. Aneka seni adiluhung dalam bentuk sastra, busana, tari, musik, bahkan kerajinan tingkat tinggi seperti tosan aji terus dikembangkan sebagai jelmaan jatidiri negeri baru. Jatidiri budaya ini bukan sekedar ciri pembeda dari negeri yang lama yaitu Surakarta. Jatidiri, cita dan citra negeri sedang diwujudkan dan terus diperjuangkan menuju pemenuhannya.

merapiKeselarasan dan keseimbangan tidak hanya dalam cita-rasa pemikiran mendalam dan indah lestarinya alam sekitar. Keselarasan juga harus mewujud dalam hal-hal nyata sehari-hari kerajaan. Misalnya keselarasan dan keseimbangan kekuatan dukungan politik, pertahanan dan pemerintahan. Wujud keselarasan ekonomi, sosial dan budaya juga harus tampak nyata. Dari sejarah pergulatannya, nyata sekali Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri bukan hanya berdasarkan ketokohan raja, tetapi juga di atas kekuatan rakyat yang disebut kawula. Ungkapan terkenal kekuatan bersama ini adalah manunggaling kawula-gusti. Bagaimana kawula alit mampu ikut membesarkan? ***

Seri Berdirinya Keraton Ngayogyakarta merupakan hasil penyusunan bahan ajar bagi anak dan remaja yang disusun oleh tim pengembang Pamong Belajar BPKB DIY. Tulisan terdiri dari 14 judul, yaitu:

  1. Pangeran Mangkubumi
  2. Geger Kartasura, Berdirinya Kraton Surakarta
  3. Panggilan Jiwa Ksatria
  4. Pertempuran Dua Panglima Besar
  5. Ontran-ontran Keraton Surakarta
  6. Titik Balik
  7. Runtuhnya Benteng VOC
  8. Kembalinya Tahta Mataram
  9. Hamemayu Hayuning Bawana
  10. Besar dari yang Kecil
  11. Membangun Peradaban Baru
  12. Yogyakarta Kotaraja
  13. Kotaraja Menyimpan Makna
  14. Selain Makna juga Kenangan