GuruPurwodadi (12/01) Mendikbud menyatakan bahwa kurikulum 2013 lebih mudah dilaksanakan oleh guru dibanding KTSP, karena guru tidak mengembangkan kurikulum. Salah satu alasan merubah KTSP karena pada kenyataan guru tidak melaksanakan pembelajaran yang berpusat peserta didik. Guru juga dipandang tidak mampu melakukan penyusunan silabus sebagai bagian dari pengembangan kurikulum.

Karena itulah pada kurikulum 2013 kewenangan guru dikurangi, guru tidak lagi melakukan pengembangan silabus. Guru tinggal menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Bahkan guru sudah disiapkan buku panduan dalam mengajar, dan pemerintah juga akan menyiapkan buku ajar. Guru tidak lagi dipusingkan memilih buku ajar.

Namun demikian, sampai detik ini tidak ada gejolak yang berarti dari kalangan guru terhadap pernyataan pemerintah tentang kesimpulan negatif kinerja guru. Padahal kesimpulan tersebut dijadikan sebagai salah satu alasan mengapa KTSP harus diganti. Guru dianggap tidak mampu mengembangkan kurikulum sehingga diambil saja kewenangannya.

Boleh jadi kesimpulan itu benar. Walaupun guru tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena guru tidak pernah disiapkan menjadi pengembang kurikulum. Pendidikan tinggi pencetak guru tidak menyiapkan guru sebagai pengembang kurikulum. Seorang sarjana pendidikan yang baru saja lulus perguruan tinggi masih perlu tambahan jam terbang dan pendidikan latihan agar menjadi pendidik yang mampu menerapkan pembelajaran interaktif dan bermakna. Tidak hanya pembelajaran yang searah, atau berpusat pada guru saja.

Sayangnya kesempatan pendidikan dan pelatihan bagi guru sangat terbatas, sehingga belum menjangkau semua guru. Lebih dari itu, in house training yang dilakukan di berbagai sekolah di daerah belum menjangkau semua sekolah. Maka wajar jika pelaksanaan KTSP belum optimal.

Persoalannya, apakah kinerja guru akan dijadikan sebagai alasan untuk merubah kurikulum?

Ketika kewenangan guru dalam kurikulum 2013 dikurangi maka daya nalar guru akan semakin tumpul. Bagaimana jika guru yang memiliki daya nalar yang semakin tumpul akan menghasilkan siswa yang kreatif dan cerdas?

Mengapa dalam kondisi guru dipojokkan, PGRI diam saja? Berbeda ketika menuntut sertifikasi yang berujung pada pemberian tunjangan profesi satu kali gaji. Sudah semestinya dengan tingkat kesejahteraan sekarang ini, guru harus mampu menunjukkan bahwa profesionalitasnya. Tidak justru malah senang karena kewenangannya dikurangi, padahal di sisi lain dipojokkan dan diadikan asumsi negatif dalam perubahan kurikulum. Senang karena beban kerja berkurang tapi tunjangan profesi tidak dikurangi.

Bahkan dalam perubahan kurikulum 2013 guru cenderung sebagai obyek perubahan, bukan subyek. Representasi guru dalam perubahan kurikulum 2013 pun masih dipertanyakan. Padahal gurulah pelaksana kurikulum, bukan kalangan akademisi atau birokrasi.

Boleh jadi, karena itulah guru tidak kuasa untuk menolak kurikulum 2013. Karena posisi guru (PGRI) yang terkooptasi oleh akademisi dan birokrasi.