gen yGenerasi Y atau Gen Y adalah remaja dan dewasa muda saat ini yang lahir antara tahun 1980 dan 2000. Secara demografis generasi Y berpendidikan tertinggi dalam sejarah manusia. Secara global 40% dari orang dewasa berusia 18-24 yang terdaftar dalam salah sebuah perguruan tinggi, dan sebagian besar dapat dapat ditemukan secara online di dunia maya.

Bahkan, dapat dikatakan bahwa dunia online adalah dunia bermain Gen Y, Internet adalah sifat definitif Gen Y itu. Gen-Y dibesarkan pada teknologi, ponsel kita adalah perpanjangan tangannya dan pesan teks, pesan instan dan facebook adalah media Gen Y berinteraksi dengan orang lain. Di negara maju ditemukan fakta bahwa bahwa 93% dari Gen Y pergi online setiap hari. Internet telah menjadi begitu banyak bagian dari kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, 53% dari Gen Y membentuk komunitas blogglng keseluruhan secara online, dan 75% telah menciptakan setidaknya satu profil online.

Kehadiran online Gen Y adalah kekuatan yang harus diperhitungkan. Persoalannya, dunia pendidikan baik formal dan nonformal para pendidik dan tenaga kependidikan di Indonesia lahir sebelum generasi Y. Atau yang disebut dengan generasi X, yaitu generasi yang lahir antara tahun 1965-1980. Generasi ini lahir pada masa sebelum komputer dan media online menjadi santapan sehari-hari dan digunakan secara fungsional pada setiap sendi kehidupan.

Pada saat lahir dan tumbuh menjadi remaja dan dewasa, pada saat belajar dan mengikuti pendidikan media yang digunakan untuk menyimpan informasi dan pengetahuan masih menggunakan buku tulis, atau buku cetak. Belum mengenal media penyimpanan digital berupa disket, compact disk, harddisk ataupun flashdisk. Generasi X mengenal komputer dan media online setelah usia dewasa muda atau dewasa.

Berbeda dengan generasi Y yang sudah mulai mengenal media digital dan dunia online sejak usia dini. Maka tidaklah mengherankan kemudian terjadi kesenjangan kemampuan penguasaan teknologi informasi antara generasi Y dan generasi X, antara anak dan orang tua, antara siswa dan gurunya.

Secara demografis pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) pendidikan nonformal sebagian besar masuk pada kategori generasi X yang mengenal teknologi informasi belakangan setelah menginjak usia dewasa atau dewasa muda. Bahkan banyak di antaranya yang masih gaptek. Kondisi ini sudah barang tentu akan berpengaruh pada interaksi pada proses pembelajaran dengan peserta didik.

Ketika dunia menjadi global, dan teknologi informasi sudah menjadi kebutuhan maka layanan pembelajaran pendidikan nonformal memerlukan sentuhan teknologi informasi dan komunikasi. Jika generasi X yang menjadi PTK pada jalur pendidikan nonformal tidak membekali diri dengan kompetensi TIK, maka ia akan ketinggalan jaman dan terlibas oleh arus globlalisasi. Ia akan terus berpikir lokal dan tidak bisa menembus batas jarak dan waktu.

Pada tataran tingkat yang sangat sederhana, perlu diupayakan bagaimana PTK pendidikan nonformal melek komputer semua. Melek komputer atau computer literacy akan menjadi acuan utama dalam menentukan tingkat kemajuan sebuah bangsa di masa mendatang. Walau hanya kemampuan dasar komputer, misalnya menguasai sistem operasi serta olah kata dan olah kata untuk mendukung tugas sehari-hari.

Pada tingkat berikutnya, PTK pendidikan nonformal perlu menguasai teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu proses pembelajaran pada satuan pendidikan nonformal. Misalnya pendidik PNF mampu membuat media belajar berbasis software yang dapat digunakan pada satuan pendidikan anak usia dini, keaksaraan fungsional, pendidikan kesetaraan, kursus dan keterampilan dan lain sebagainya. Sampai saat ini, penguasaan pendidik PNF dalam hal pembuatan media belajar berbasis software masih sangat rendah. Adanya software Authoring Tools Lectora memungkinkan pendidik PNF berkreasi menciptakan media pembelajaran dengan sangat mudah. Hal ini menjadi tantangan bagi semua elemen pendidikan nonformal.

Jadi sebelum kita bicara pada level yang tertinggi, yaitu penguasaan bahasa pemrograman, PTK jalur pendidikan nonformal perlu di asah kemampuannya menguasai kompetensi teknologi informasi dan komunikasi mulai dari level yang terendah.

Karena itulah, Himpunan Penggiat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Nonformal (HPTIK PNF) bisa melakukan dari kegiatan yang bentuknya sederhana, yaitu peningkatan kemampuan melek komputer di kalangan PTK pendidikan nonformal. Dalam hal ini sekaligus menjawab pertanyaan apa peran HPTIK PNF terhadap dunia pendidikan nonformal. Pada level selanjutnya meningkatkan kompetensi PTK pendidikan nonformal menguasai software pembuatan media belajar.