lambang kraton soloKeraton Mataram Kartasura berdiri tahun 1680. Sunan Amangkurat II memindahkannya dari Keraton Mataram di Pleret yang telah hancur karena perang saudara hebat. Peperangan berhasil dipadamkan berkat bantuan VOC Belanda. Trunajaya tokoh pemberontak paling kuat ditangkap VOC di Kediri, lalu dihukum raja pada bulan Januari 1680. Tetapi, pertikaian kerabat istana terus berlanjut. Bahkan, kini diperumit dengan hadirnya VOC dalam pemerintahan kerajaan.

Waktu berlanjut. Sunan Paku Buwana II (1726 – 1749) mewarisi Keraton Kartasura beserta pergolakannya. Sesama pewaris kerajaan masih terus berselisih akibat perbedaan sikap terhadap campur tangan Belanda. Raja dilawan saudara-saudaranya karena tidak tegas dan tergantung Belanda.  Sejumlah Adipati ingin melepaskan diri dari Mataram dan bersekutu dengan kerabat penentang raja. Pemberontakan dipimpin Mas Garendi. Ia sangat membenci Belanda, karena eyangnya yaitu Amangkurat III oleh Belanda dibuang ke Srilanka sampai wafat di tahun 1734.

Mas Garendi didukung Adipati Cakraningrat IV dari Madura. Tanggal 30 Juni 1742 Paku Buwana II lolos dari istana mengungsi ke Ponorogo. Bersama keluarga Sunan dikawal Majoor Hogendorff , komandan pasukan garnizun Belanda. Pangeran Mangkubumi dan pendukung yang lain mempertahankan keraton.  Namun upaya tidak berhasil, keraton dikuasai pemberontak. Mas Garendi dinobatkan para pendukungnya, bergelar Sunan Kuning.

Di pengungsian, Sunan Paku Buwana II menyetujui Kesepakatan Ponorogo. Belanda sanggup merebutkan kembali tahta dari tangan pemberontak dengan suatu imbal balik. Bayaran itu benar-benar amat mahal, tetapi Sunan dalam keadaan terjepit. Keadaan tidak memungkinkan lebih dahulu bermusyawarah dengan Mangkubumi dan para pejabat lainnya di istana.

Belanda menepati janji. Enam bulan kemudian pemberontak diusir dari keraton. Tanggal 21 Desember 1742 Sunan Paku Buwana II dihantar kembali masuk istana. Setahun kemudian Belanda menagih janji. Maka ditanda tanganilah suatu perjanjian pada tanggal 11 November 1743. Sunan menyerahkan sepenuhnya wilayah Rembang, Jepara, Surabaya, Madura dan seluruh ujung timur pulau Jawa kepada Belanda. Ditambah lagi setoran sebagian pendapatan pelabuhan-pelabuhan makmur dan beras 8.600 metrik ton tiap tahun beserta hasil bumi lainnya. Belanda membantu raja membangun kembali keraton.

Keadaan istana masih porak-poranda, lagi pula dianggap telah ternoda. Maka mulai 3 September 1744 keraton Kartasura dikosongkan. Raja membangun istana baru di Sala yang kemudian dinamai Surakarta. Sala adalah nama pohon yang banyak tumbuh di rawa tempat keraton itu dibangun. Dua tahun kemudian pembangunan telah selesai. Sang Raja boyongan ke istana baru Keraton Surakarta tanggal 17 Februari 1746.

Suasana baru bukan berarti lenyapnya persoalan. Para bangsawan kerabat yang merasa dikhianati raja terkait peristiwa geger Pacinan belum padam amarahnya. Meskipun gabungan kerajaan dan VOC Belanda telah mengusir mereka dari kota raja, tetapi di kantong-kantong daerah mereka masih kuat. Salah satu tokoh yang disegani adalah Raden Mas Said. Ia terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyawa. Mas Said adalah putera Pangeran Arya Mangkunegara, saudara raja yang dibuang lantaran fitnah. Siapa bisa menenteramkan keadaan? ***

Seri Berdirinya Keraton Ngayogyakarta merupakan hasil penyusunan bahan ajar bagi anak dan remaja yang disusun oleh tim pengembang Pamong Belajar BPKB DIY. Tulisan terdiri dari 14 judul, yaitu:

  1. Pangeran Mangkubumi
  2. Geger Kartasura, Berdirinya Kraton Surakarta
  3. Panggilan Jiwa Ksatria
  4. Pertempuran Dua Panglima Besar
  5. Ontran-ontran Keraton Surakarta
  6. Titik Balik
  7. Runtuhnya Benteng VOC
  8. Kembalinya Tahta Mataram
  9. Hamemayu Hayuning Bawana
  10. Besar dari yang Kecil
  11. Membangun Peradaban Baru
  12. Yogyakarta Kotaraja
  13. Kotaraja Menyimpan Makna
  14. Selain Makna juga Kenangan