HamemayuJakarta (04/04) International Standard of Serial Number (ISSN) merupakan tanda pengenal unik setiap terbitan berkala yang berlaku global. Bagi sebagian kalangan mengurus ISSN mungkin dianggap sulit dan lama. Ternyata pengalaman saya mengurus ISSN cepat, karena pendaftaran ISSN dapat dilakukan secara online.

Jika kita memiliki penerbitan berkala, baik itu jurnal ilmiah, majalah, atau buletin wajib memiliki ISSN. Jadi ISSN sebagai penanda bagi terbitan berkala resmi yang dilakukan melalui proses editorial.

Di era informasi ini media berkala cetak tetap memiliki peranan dan fungsi yang tidak bisa digantikan oleh blog di internet. Perbedaan utamanya adalah adanya proses editorial dan penilaian dari pihak ketiga sebelum disampaikan ke pembaca. Proses ini memastikan tingkat akurasi, atau setidaknya mengurangi kesalahan, isi sebuah artikel serta memberikan jaminan kebenaran informasi seperti diharapkan oleh pembaca. Sementara itu pada media blog tidak ada proses editorial dan penilaian dari pihak ketiga sebelum diposting. Oleh karena itulah, artikel pada blog tidak bisa dijadikan sebagai bukti fisik penilaian pengembangan profesi bagi jabatan fungsional, kecuali jurnal online yang memiliki proses editorial.

Selain ISSN, yang merupakan penanda bagi penerbitan berkala. Dikenal pula ISBN (International Standard Book Number) yang merupakan nomor registrasi terbitan tunggal seperti buku.

Sistem penomoran ISSN dikelola secara terpusat oleh ISDS (International Serial Data System) yang berkedudukan di Paris, Perancis, dan diadopsi sebagai implementasi dari ISO-3297 di tahun 1975. Tentu saja tidak seluruh pemohon ISSN harus berurusan dengan ISDS di Paris, melainkan cukup dengan Pusat Nasional ISSN di negaranya masing-masing. Untuk Indonesia, ISSN dikelola oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI). Hal ini sebagai bagian dari tugas dan wewenang PDII LIPI untuk melakukan pemantauan atas seluruh publikasi terbitan berkala yang diterbitkan di Indonesia.

Berbeda dengan ISSN yang diterbitkan oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, ISBN diterbitkan oleh Pusat Perpustakaan Republik Indonesia.

Sejak 1 April 2008 lalu seluruh proses pengajuan sampai penerbitan ISSN dilakukan secara online melalui situs ISSN Online. Dengan sistem ini pengelolaan ISSN menjadi lebih mudah, murah, cepat dan transparan bagi publik.

Apa yang perlu disiapkan untuk memperoleh ISSN? Pengelola penerbitan berkala wajib menyiapkan dokumen dijital dalam bentuk pdf yang dikompres dengan ekstensi zip, yaitu

  1. Cover penerbitan berkala
  2. Susunan Dewan Redaksi
  3. Daftar Isi
  4. Bukti transfer pembayaran pendaftaran ISSN

Bahkan kita bisa mengurus ISSN bagi penerbitan berkala yang baru akan terbit. Dengan catatan sudah membuat desain cover, memiliki susunan redaksi dan daftar isi penerbitan berkala. Semua dokumen tersebut disimpan dalam file format pdf.

Selanjutnya diisi semua data yang diperlukan pada formulir pendaftaran ISSN Online. Berdasarkan pengalaman saya mengurus ISSN Buletin Hamemayu yang tercatat pada 25 Maret 2013, hanya membutuhkan waktu satu hari saja setelah semua persyaratan lengkap, sudah mendapatkan kode ISSN berikut kodebar. Tidak harus melakukan surat menyurat yang memakan waktu lama. Semua bisa dilakukan secara online.

1364194948Menariknya, ISSN Online dari PDII LIPI ini tidak hanya menyediakan sarana terpadu untuk pengurusan administrasi ISSN, tetapi juga menyediakan perangkat lunak online untuk membuat kodebar (barcode generator) khusus ISSN. Dengan ini penerbit tidak perlu memiliki perangkat lunak pembuat kodebar yang cukup mahal. Hal mana berbeda dengan sarana online untuk ISSN di negara lain.

Untuk penerbitan jurnal ilmiah pendaftaran ISSN baru merupakan langkah pertama. Langkah selanjutnya jurnal tersebut harus diakreditasi sehingga diakui sebagai jurnal ilmiah. Karenanya tidak setiap penerbitan berkala dapat dikategorikan sebagai jurnal ilmiah, dan tidak setiap jurnal ilmiah yang ber-ISSN sudah terakreditasi. Status jurnal ilmiah ber-ISSN, dan status terakreditasi akan memberikan implikasi pemberian angka kredit pengembangan profesi pada berbagai jabatan fungsional.