trio bisnis sosialOleh Edi Basuki

“Diharapkan program ini bisa dikembangkan oleh pemerintah daerah kabupaten Pasuruan, sebagai tindak lanjut dari program keaksaraan fungsional tingkat dasar (KD), maupun keaksaraan usaha mandisi (KUM). Ini penting untuk  menjaga tingkat keberaksaraan peserta program. Kemudian, sebagai salah satu tanda bahwa program ini sukses adalah produk yang dihasilkan bisa laku saat dipasarkan, diminati konsumen dan lembaga mitra yang lebih luas, sehinga berdampak pada peningkatan pendapatan anggota kelompok pasca program.”

Pernyataan di atas disampaikan Kepala BPPAUDNI Regional II Surabaya, Pria Gunawan, dalam pembukaan pelaksanaan focus group discussion (FGD) pengembangan model keaksaraan usaha mandiri berbasis bisnis sosial. Apa yang dikatakan oleh bapak penggemar musik ini sejalan dengan apa yang termaktub dalam model, bahwa program pasca keaksaraan tersebut bertujuan untuk meningkatkan peserta didik yang telah melek aksara fungsional, yakni dapat dikutsertakan dalam semua kegiatan yang memerlukan kemampuan melek aksara dan juga mempunyai akses untuk melanjutkan penggunaan baca tulis hitung untuk mengembangkan kemampuan diri dalam mengelola dan memecahkan masalah dalam kehidupan.

Salah satunya adalah melalui program keaksaraan usaha mandiri yang diarahkan untuk memelihara, membina, dan mengembangkan kompetensi keberaksaraan melalui kegiatan usaha peserta didik untuk mencapai kemandirian dan peningkatan kesejahteraan hidup.

Hal ini mengingat bahwa upaya penurunan angka buta aksara selama ini masih terfokus pada pemberantasan buta aksara dasar, yang disebut program pendidikan keaksaraan dasar, yakni, sebuah upaya untuk membekali warga belajar agar memperoleh kemampuan/kompetensi membaca, menulis, berhitung, dan berbahasa dasar. Namun kenyataannya, aksarawan baru tetap rentan dan berpotensi besar kembali menjadi buta huruf, ketika tidak ada program tindak lanjut yang bisa memelihara kemampuan keberaksaraan mantan warga belajar, dan itulah yang sering terjadi pada program ini. Sehingga dari tahun ke tahun isu buta aksara masih selalu muncul dan menjadi proyek nasional.

Untuk itulah, Aminullah, pamong belajar BPPAUDNI Surabaya yang berpengalaman dalam bidang pemberdayaan, bersama kelompoknya mencoba merekayasa program keaksaraan usaha mandiri melalui pendekatan bisnis sosial agar mampu memberikan manfaat pelestarian kompetensi keaksaraan dan peningkatan pendapatan warga belajar.

Konon, KUM merupakan kemampuan atau keterampilan dasar usaha yang dilatihkan melalui pembelajaran produktif dan keterampilan bermatapencaharian yang dapat meningkatkan keaksararaan dan penghasilan peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok sebagai salah satu upaya penguatan keaksaraan sekaligus pengentasan kemiskinan. Sementara, Bisnis sosial merupakan tindakan ekonomi yang dijalankan secara profesional dan menerapkan prinsip manajemen modern  untuk memperoleh keuntungan (profit) dan kemudian digunakan untuk perluasan manfaat bagi sasaran masyarakat  marginal lainnya.

Dengan demikian warga belajar pasca program, perlu didampingi dalam memanfaatkan modal usaha untuk memulai usaha secara berkelompok agar mampu mendapat keuntungan secara ekonomis sekaligus tetap terjaga keberaksaraannya, karena semua aktivitas ekonomi ditulis dan dibaca secara bergantian oleh masing-masing anggota.

”Saya sudah melihat produknya yang berupa aneka kerupuk ketela dan keripik talas, rasanya enak, mungkin yang perlu dibenahi adalah membuat rasa yang lain dari pada produk sejenis dan kemasannya yang lebih menarik,” Kata Pak Piu, sapaan akrabnya di Ruang Kreatif, senin (22/12).

Kegiatan yang digelar bertepatan dengan peringatan hari ibu itu, juga dihadiri oleh tutor, pengelola program dan mantan warga belajar, yang saat itu juga tidak lupa membawa hasil keterampilannya berupa aneka kerupuk berbahan dasar ketela  serta keripik talas rasa pedas. Ke dua produk ini sudah dipasarkan di Taman Safari Prigen, Pasuruan, setiap hari sabtu dan minggu serta hari libur. Momen hari natal dan tahun baru ini pun sudah diantisipasi dengan memproduksi lebih banyak dari biasanya untuk memanfaatkan ramainya pengunjung yang berlibur.

Menurut Sumiatun, (mantan peserta program yang kini aktif memproduksi dan memasarkan aneka krupuk ke Taman Safari), tanaman ketela di daerahnya selama ini hanya dimanfaatkan sebagai makanan selingan dan sisanya untuk makanan ternak. Setelah ada program ini, ibu-ibu peserta program tergerak memanfaatkan untuk membuat aneka olahan ketela yang dijadikan usaha ekonomi yang bisa menambah pendapatan keluarga.

”Kedepan, akan kami usulkan kepada Kepala dinas agar secara bertahab mengucurkan dana program KUM di beberapa kecamatan di Kabupaten Pasuruan sebagai upaya percepatan pemberantasan buta aksara, sekaligus pelestarian keberaksaraan yang berdampak pada naiknya pendapatan keluarga,” Kata Tatik Rahayati, Kasi PPM Dinas pendidikan Kabupaten Pasuruan yang sengaja diundang menghadiri kegiatan FGD, agar mereka tahu bahwa pamong belajar BPPAUDNI sudah menghasilkan karya di daerahnya.

Irfan Agus Munif, salah seorang anggota tim pengembang model, mengatakan bahwa untuk menjaga keberlangsungan rintisan bisnis sosial pasca program, tentu perlu ada pendampingan yang melbatkan stake holder, terkait dengan upaya memotivasi sekaligus memfasilitasi dalam rangka membangun kebersamaan usaha kelompok yang partisipatif.

”Untuk itulah peran pendamping sangat diharapkan untuk menginisiasi terbangunya jaring kemitraan yang luas dalam rangka promosi, pemasaran dan permodalan. Perlu juga mengagendakan pertemuan berkala sebagai media tukar informasi sekaligus menjaga kemampuan keberaksaraannya,” Ujarnya penuh optimis.

Nanti, tahun anggaran 2015, model besutan Aminullah ini rencananya akan ditindak lanjuti dengan kegiatan roadshow ke beberapa daerah di Jawa Timur, mempromosikan model bisnis sosial ke Dinas Pendidikan, lembaga mitra dan SKPD lain yang memiliki anggaran program pemberdayaan masyarakat.

Pengembang model pun telah membuka ruang komunikasi dengan Lukas Kambali, Ketua PKBM ”Bina Abdi Wiyata” Surabaya, yang juga sebagai salah seorang pengurus forum komunikasi PKBM (FK-PKBM) agar berkenan memfasilitasi kegiatan sosialisasi model bisnis sosial di jajarannya. Untuk itulah model ini perlu di review kembali, dikemas ulang agar tampilannya semaki menarik, bisa diterima oleh berbagai pihak. [eBas/humasipabi_online]*

ebas-1*) Edi Basuki adalah pamong belajar di BP PAUDNI Regional II Surabaya dan Humas Pengurus Pusat Ikatan Pamong Belajar Indonesia

Sumbangan tulisan pihak ketiga belum tentu menggambarkan pandangan atau sikap pemilik blog.