adi bing slamet vs eyang suburYogyakarta (13/04) Pemberitaan pertikaian antara Adi Bing Slamet versus Eyang Subur sudah mulai memuakkan masyarakat. Tayangan infotainment televisi disesaki berita Eyang Subur, pagi Eyang Subur, siang Eyang Subur dan malam hari Eyang Subur. Seperti tidak ada hal lain yang lebih menarik untuk dibicarakan.

Ilham Bintang kepada Apa Kabar Indonesia Malam (13/04), mengatakan  bahwa media hanya berputar-putar pada orang yang berbcara tentang Eyang Subur tapi tidak ada wartawan yang berhasil mendudukkan duduk perkara sebenarnya. “Ini tak lebih dari jurnalisme mutilasi berserak-serak dan sulit untuk dikumpulkan masalah sebenarnya.” jelas Ilham Bintang anggota Dewan Kehormatan PWI.

Bahkan masalah Eyang Subur sudah dibawa ke DPR, Kamis (11/04) Adi Bing Slamet ditrerima oleh Komisi III DPR untuk mengadukan masalah Eyang Subur. Indra, anggota Komisi III DPR, mengatakan bahwa saat itu tidak hanya Adi Bing Slamet yang datang tetapi ada enam elemen masyarakat yang datang dengan masalah berbeda seperti korban penembakan LP Cebongan, Kontras dan lain-lain. Jadi tidak hanya membicarakan masalah Eyang Subur.

Menurut Ilham Bintang, sebenarnya tidak perlu melibatkan DPR untuk menyelesaikan masalah Eyang Subur. Bisa diselesaikan secara kekeluargaan antara Adi Bing Slamet dan Eyang Subur sehingga tidak perlu digoreng-goreng masuk ke ruang publik. “Atau Adi Bing Slamet mengadukan saja ke Polisi seperti yang sudah direncanakan” tambah anggota Dewan Kehormatan PWI itu.

Benar  juga kata Ilham Bintang, mengapa harus terbawa arus menggoreng-goreng masalah Eyang Subur. Seperti tidak ada masalah lain yang lebih penting. Mengapa kita tidak menggoreng-goreng masalah pamong belajar dan penilik , insan pendidikan nonformal yang nasibnya masih terlunta-lunta di jagad pendidikan Indonesia. Jumlah manusia yang melibatkan pamong belajar dan penilik jauh lebih banyak dari pada jumlah manusia yang terlibat pertikaian dengan Eyang Subur.

Jumlah pamong belajar seluruh Indonesia ada 3.406 orang dan jumlah penilik 7.312 orang. Coba hitung saja berapa jumlah total manusia yang menjadi sasaran, jika setiap pamong belajar dan penilik melibatkan 40 orang saja? Berapa jumlah anggota keluarga yang akan terdampak atas belum meningkatnya nasib (baca: kesejahteraan) pamong belajar dan penilik? Sangat jauh dari jumlah manusia yang terlibat pada kasus Eyang Subur.

Memang masyarakat kita lebih suka dengan gosip.