PKBM An Nur ElisBandung (15/09)  Menarik kalimat yang dilontarkan oleh Elis Siti Soelistyaningsih bahwa sebenarnya tidak ada istilah kemiskinan yang ada adalah kemiskinan pola pikir. Karena itulah ibu berusia 42 tahun ini tergerak hatinya untuk meningkatkan mutu hidup masyarakat desanya dengan mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dibawah naungan Yayasan An Nur sejak tahun 2007 dengan berpedoman pada semboyan yaitu Berkarya, Berbakti, dan Peduli.

Selama sepuluh tahun sampai tahun 2003 ibu tiga anak ini menjadi pegawai honorer di Setda Kabupaten Cilacap. Ketika tinggal selangkah lagi menjadi CPNS di Pemkab Cilacap, Elis dan keluarga memutuskan untuk kembali ke kampung halaman di Desa Tambaksari, Kecamatan Wanareja, Cilacap. Sebuah desa yang berjarak sekitar 100 km dari Cilacap, kota yang menjadi tempat tinggal Elis tumbuh sejak remaja hingga menjadi dewasa dan berkeluarga.

Pada awalnya, pada tahun 2003, berbekal dengan niat ikhlas untuk membantu mengentaskan masyarakat dari keterbelakangan pendidikan, maka H. Drs. Karsono ayahanda dari Elis mendirikan TK, SD dan SMP di bawah naungan Yayasan An Nur. Persoalan muncul ketika siswa yang lulus SMP akan dikemanakan, sementara untuk mendirikan SMA memerlukan investasi yang lebih besar. Belum lagi harus menyediakan guru.

Kemudian pada tahun 2006, Elis berkonsultasi ke Dinas Pendidikan Cilacap untuk mendirikan Kejar Paket C guna menampung lulusan SMP agar mendapatkan layanan pendidikan yang lebih tinggi. Dari hasil konsultasi itulah kemudian mulai mengenal PKBM, dan mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang apa dan bagaimana PKBM itu. Pikiran Elis menjadi terbuka, justru lembaga seperti inilah yang ia cari untuk mengemas berbagai program pemberdayaan masyarakat.

PKBM An NurElis berpandangan bahwa pada dasarnya tujuan keberadaan PKBM adalah untuk mewujudkan peningkatan kualitas hidupdalam arti luas.  Selain itu, tujuan didirikannya PKBM adalah terbentuknya perilaku warga masyarakat untuk aktif belajar selama hidupnya secara terus-menerus agar dapat menjadi mandiri (self reliant), meningkatkan kualitas hidupnya, serta memberikan kontribusi pada pengembangan masyarakat.

Karena itulah untuk mencapai tujuan PKBM tersebut, PKBM sebagai lembaga yangmelaksanakan proses pembelajaran yang terfokus pada pemberdayaan masyarakat semestinya melaksanakan berbagai fungsinya secara efektif dan efesien sesuai dengan kebutuhan belajar dan potensi masyarakat dalam mencapai kemajuan pendidikan, ekonomi, sosial budaya dan aspek-aspek kehidupan lainnya.

Dalam rangka memberdayakan masyarakat sekaligus memanfaatkan potensi lokal maka PKBM An Nur mengembangkan unit usaha Sebutret. Sebutret (Serat Sabut Kelapa Keriting Berkaret Alam) atau disebut juga Rubberized Coir (RC), adalah produk berbahan baku alam tropis Indonesia dengan teknis design kerajinan tangan anak bangsa Indonesia yang dibina melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) AN-NUR Desa Tambaksari, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap. Kemampuan memproduksi sebutret diperoleh ketika ayahanda Elis, yaitu H. Drs. Kartono, mengikuti pelatihan pembuatan produk serat sabut kelapa dan karet alam di Bogor, Jawa Barat. Keterampilan yang diperoleh di Bogor itulah yang kemudian dikembangkan menjadi sabut kelapa keriting berkaret alam. Sebagaimana diketahui Wanareja merupakan salah satu pusat perkebunan karet alam yang besar di Jawa Tengah.

PKBM An Nur Sabutret 1Sebutret ini bahkan sudah dipatenkan, karena berbeda dengan RC lainnya yang berasal dari sabut kelapa lurus. Sebutret sabut kelapanya sudah dikeritingkan sehingga lebih kuat. Serat sabut kelapa yang dikeritingkan inilah yang membedakan produk sebutret PKBM An Nur Wanareja dengan produk sejenis lainnya. Di samping itu, PKBM An Nur juga sudah mematenkan salah mesin pengolah sebutret yang didesain sendiri.

Sebutret dapat digunakan sebagai bahan baku kasur tidur, kasur lesehan, jok mobil, bantal guling, natural wall paper, dan aneka kerajinan tangan lainnya. Karena itulah tidak heran jika sebutret ini mampu menembus pasar ekspor. Karenanya sampai saat ini PKBM An Nur kewalahan memenuhi permintaan sebutret.

PKBM An Nur Mitra

Proses produksi sebutret melibatkan masyarakat yang menjadi warga belajar pada berbagai satuan pendidikan nonformal di bawah naungan PKBM An Nur, yaitu pendidikan keaksaraan, pendidikan kesetaraan, pendidikan vokasi dan majelis taklim. Tidak ada kapitalisasi produksi, pendekatan yang digunakan adalah pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat agar perekonomian dan tingkat pendidikannya meningkat. Warga belajar yang terlibat dalam proses pembuatan sebutret adalah mitra. Bahkan H. Drs. Karsono mewakafkan 2 Ha lahan karet untuk kepentingan pendidikan di PKBM An Nur. Karet adalah salah satu bahan baku utama sebutret disamping sabut kelapa.

Kemampuan PKBM An Nur mengemas program keterampilan dalam meningkatkan nilai produk yang banyak tersedia di sekitar (sabut kelapa dan karet alam); serta menjalin kemitraan dengan berbagai instansi serta user baik dalam negeri maupun luar negeri, akhirnya membawa Elis selaku pengelola menjadi Juara Pertama Pengelola PKBM Tingkat Nasional dalam rangka Apresiasi PTK PAUDNI Tahun 2012. Namun hal itu tidak menjadikan seorang Elis jumawa karena ia berharap masih terus bisa memberikan manfaat dan berbagi kebahagiaan kepada masyarakat di lingkungannya. Dan satu lagi, tetap istiqomah.