Apresiasi PTK PAUDNI Berprestasi Nasional Tahun 2015

Jogja juara umumMedan (09/06/2015) Setelah menunggu enam tahun akhirnya kontingen Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meraih predikat juara umum pada Apresiasi PTK PAUDNI Berprestasi Tahun 2015 di Medan. DIY juara umum terakhir kali tahun 2009 di Yogyakarta dan pada tahun 2008 juara umum bersama dengan Jawa Tengah di Semarang.

DIY meraih juara umum dengan perolehan Juara I untuk Lomba Karya Nyata (LKN) Instruktur Komputer atas nama Muhadi Tri Wusana, LKN Instruktur Baby Sitter Ina Lathifah, LKN Otomotif Tukirin, dan LKN Tata Busana Valentina Poniyem. Juara II diperoleh dari LKN Penilik Juyunah Nur Latifah, dan LKN Tutor Keaksaraan atas nama Herin Ratnaningsih. Juara III diraih oleh Lilis Suryani kategori LKN Pendidik PAUD.

Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) atas nama Agus Nurwijanarko dan Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) memperoleh juara harapan pertama. Serta Rr. Dwi Suwarniningsih meraih juara harapan kedua untuk kategori LKN Kepala Sanggar Kegiatan Belajar.

Prestasi kontingen DIY ini cukup fenomenal, mengingat jumlah satuan PAUD dan satuan pendidikan nonformal sangat terbatas dibanding provinsi lainnya di Jawa. Daerah setingkat provinsi yang hanya memiliki lima kabupaten/kota ini mampu melakukan seleksi secara berjenjang mulai dari tingkat kabupaten/kota dan tingkat DIY. Seleksi di tingkat kabupaten/kota didukung dengan anggaran pemerintah daerah setempat yang dimulai dari sosialisasi, pembinaan, seleksi dan pembimbingan tingkat kabupaten/kota.

Anggaran kabupaten/kota bisa dialokasikan sebagai buah dari koordinasi dan sinkronisasi antara Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Dinas Dikpora DIY melalui Balai Pengembangan Kegiatan Belajar DIY.

Seleksi tingkat DIY pun boleh dikata sudah tidak mengandalkan anggaran dari pemerintah pusat. Anggaran dari kementerian lebih difokuskan pada latihan olah vokal presentasi, senam aerobik dan paduan suara.  Walaupun jumlah alokasi APBD yang tidak begitu besar, namun strategi pemusatan latihan yang disusun oleh para pamong belajar Balai Pengembangan Kegiatan Belajar DIY mampu menghasilkan kontingen yang siap berkompetisi.

Dukungan akademisi dan praktisi sangat membantu pelaksanaan strategi pemusatan latihan kontingen DIY. Akademisi berasal dari  Fakultas Ilmu Budaya UGM (Wiwien W Rahayu, M.Hum), Fakultas Ilmu Pendidikan UNY (Dr. Iis Prasetyo dan Dr. Farida Agus S., M,Psi.), Fakultas Bahasa dan Seni UNY (Dr. Tadzkiroatun M.), Fakultas Teknik UNY (Dr. Kokom Komariah dan Noto Widodo, M.Pd.), praktisi olah vokal dan presentasi (Kak Risdiyanto), Penilik Kulon Progo (Ari Sulistyo), praktisi penulis dari jurnalis (Ag. Irawan), guru SMK Kesenian (Drs. Langgeng) dan pelatih senam (Suprapti dan tim) serta DPD HIPKI DIY.

Metode pembimbingan menggunakan metode saling silang, ada empat orang pamong belajar yang menjadi tim pertama (Fauzi Eko Pranyono, Hikmat Widayat, Agus Hari Prabowo dan M.Th. Yetti Pudiyantari), masing-masing mengampu tiga atau empat orang anggota kontingen. Kemudian disilangkan dengan tim kedua yang terdiri dari empat pamong belajar pula (Basri Hananta, Cipto Suncoko, Bais Jajuli Sidiq, dan Bakti Riyanta). Sebelum dan selama pelaksanaan pemusatan latihan dengan metode saling silang ini, dibekali dan didampingi oleh narasumber ahli dari kalanga akademisi.

Pemusatan latihan dilaksanakan selama empat tahap. Setiap tahap dilaksanakan selama enam hari. Tahap pertama sampai dengan ketiga fokus pada pembimbingan penulisan naskah, yang dilaksanakan hingga batas akhir pengiriman naskah. Dana APBN digunakan untuk pemusatan latihan pasca pengiriman naskah yang dilaksanakan bekerjasama dengan DPD HIPKI DIY. Fokus pemusatan latihan tahap keempat ini tidak lagi pada naskah, tapi pada lomba kelompok yaitu senam dan paduan suara serta olah vokal dan presentasi.

Ibarat sebuah film, membutuhkan produser, sutradara, penulis skenario dan perangkat produksi yang handal disamping pemain yang berbakat. Produser memiliki biaya yang tinggi namun tidak didukung dengan kerabat kerja dan pemain yang berbakat niscaya akan menghasilkan film kurang bermutu dan kurang enak ditonton. Produksi fim adalah kerja tim. Begitu pula penyiapan kontingen adalah kerja tim. Terima kasih untuk semua pihak yang sudah terlibat dalam semua tahapan pemusatan latihan sehingga kontingen DIY berjaya.

Akhirnya, juara hanya label. Juara bukan tujuan utama. Lebih utama adalah mau dan mampu berbagi serta menjadi contoh bagi PTK PAUDNI lainnya. Karena itulah filosofi dari hamemayu hayuning bawono! [fep].