http://kumpulan-artikel-menarik.blogspot.com/2009/05/pertarungan-alfamart-vs-indomaret.htmlJika kita melakukan perjalanan darat, terutama di Pulau Jawa, ketika membutuhkan makanan kecil, minuman mineral dan kebutuhan lainnya sekarang sebagian besar lebih suka singgah ke toko ritel modern dibandingkan warung atau toko tradisional. Orang memilih membeli ke ritel modern karena alasan antara lain kenyamanan, mendapatkan barang yang lebih baru, dan adanya kepastian harga. Kondisi ini menjadi dilematis di tengah upaya mempertahankan usaha kecil menengah.

Saya pernah punya pengalaman ketika dalam perjalanan jauh melalui darat singgah ke warung tradisional membeli minuman mineral harus membeli dengan harga yang lebih tinggi dari harga di ritel modern. Bahkan terkadang dengan selisih harga yang relatif jauh. Karena sudah terlanjur berhenti dan tidak mau membuang waktu akhirnya dibeli saja. Berbeda jika kita berbelanja di ritel modern harga sudah pasti dan berharga wajar. Kita sebelumnya dapat membaca pada label harga yang tertera di dekat barang yang dibeli.

Berdasarkan pengamatan saya, ritel modern di sepanjang jalur pantai utara Jawa, juga di jalur lintas jarak jauh lainnya, banyak dikunjungi oleh orang yang sedang melakukan perjalanan. Mereka memilih ritel modern karena mendapatkan kepastian harga yang wajar dan pilihan barang yang lebih beragam. Bahkan keberadaan ritel modern yang buka selama 24 jam juga banyak membantu pemenuhan kebutuhan orang yang sedang bepergian.

Di samping itu, makanan dan minuman kemasan yang dijual ritel modern memiliki masa kedaluarsa yang lama, walaupun kita harus tetap memeriksa batas kadaluarsanya. Kalau saya mengatakan bahwa makanan dan minuman kemasan dari warung tradisional terkadang hampir bahkan melampaui batas kedaluarsa, nanti saya dikira tidak memihak usaha kecil menengah. Namun saya kekhawatiran saya beralasan karena pernah menjumpai makanan kemasan yang dibeli di warung tradisional oleh anak saya sudah memasuki bulan batas kedaluarsa. Hal ini karena kontrol yang kurang ketat berbeda yang dilakukan oleh ritel modern berjaringan.

Ketika kita masuk ke ritel modern, pelanggan disapa dengan sapaan yang ramah oleh karyawan penjaga toko. Sapaan ini terasa menyejukkan dan merasakan seperti dimanusiakan. Memasuki toko kita bisa langsung memilih barang sesuai kebutuhan kita dan tinggal antri di kasir. Rasa dimanusiakan dan kenyamanan ini sangat jarang dijumpai di warung tradisional. Kita harus mengatakan sesuatu atau menunjuk barang yang diinginkan kepada pemilik yang sekaligus penjaga toko, dan jika ada pembeli lain harus bersabar untuk dilayani. Terkadang dijumpai pemilik warung berada di belakang, sehingga harus berteriak memanggil-manggil untuk dilayani.

Sebagai pelanggan tentunya berhak memilih untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik. Nampaknya pilihan antara ritel modern atau warung tradisional menyangkut gaya hidup seseorang. Gaya hidup modern mendorong seseorang untuk bertindak praktis dan cepat, hal inilah yang didapat ketika berbelanja di ritel modern. Persoalannya, ketika ritel modern merambah sampai ke pelosok kecamatan telah mengurangi omset penjualan warung-warung tradisional yang ada di sekitarnya. Dan hal ini akan mematikan kelompok usaha kecil menengah.

Kebijakan yang tepat adalah bukan memusuhi ritel modern, namun membatasi lokasi pendiriannya. Bagaimana pun juga sebagian masyarakat juga berhak untuk mendapatkan pelayanan dari ritel modern, namun demikian warung tradisional juga harus tetap diberi ruang agar tetap bisa menjalankan usahanya. Inilah dilematis ritel modern dan warung tradisional.

Walau pun saya adalah pelanggan setia ritel modern, namun saya tetap setia sebagai pembeli di pasar tradisional. Untuk kebutuhan mingguan atau bulanan seperti sabun, pasta gigi, shampo, minyak, makanan kemasan, dan kebutuhan sejenis lainnya saya mengandalkan ritel modern. Sedangkan untuk kebutuhan sayur mayur dan sejenisnya saya tetap mengandalkan pasar tradisional.

Beberapa alasan mengapa kebutuhan sayur mayur dan sejenisnya masih mengandalkan pasar tradisional. Pertama sayur mayur tidak disediakan oleh ritel modern, hanya supermarket atau hypermarket yang menyediakan sayur mayur tapi dengan harga yang lebih mahal dari pasar tradisional. Kedua, ada suasana yang tidak bisa tergantikan ketika kita melakukan aktivitas transaksi di pasar tradisional. Ada interaksi yang intensif ketika melakukan tawar menawar suatu produk sehingga terjadi kesepakatan harga. Bagi sebagian orang sangat menikmati aktivitas ini.

Langkah ini paling tidak bisa mengurangi laju pertumbuhan negatif pasar tradisional yang menurutAC Nielson (2003) tumbuh negatif sebesar 8%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperkirakan dalam kurun waktu sekitar 12 tahun pasar tradisional akan habis. Sehingga langkah saya untuk membagi kunjungan ke ritel modern dan pasar tradisional bisa merupakan langkah kecil untuk ikut mempertahankan pasar tradisional, namun di sisi lain juga bisa menikmati layanan yang memuaskan ketika berbelanja di ritel modern.

Langkah lain yang perlu dilakukan adalah tetap mempertahankan pengunjung setia pasar tradisional dengan memperhatikan infrastrukturnya. Sebagian pasar tradisional dikenal dengan bau, becek dan macet, sehingga masyarakat semakin enggan berkunjung ke sana. Oleh karena itulah pemerintah kabupaten/kota harus memperhatikan infrastruktur pasar tradisional. Artinya di satu sisi pemerintah kabupaten/kota menerapkan kebijakan pembatasan penetrasi ritel modern, di sisi lain juga berkewajiban mengembangkan infrastruktur pasar tradisional menjadi nyaman sehingga pasar tradisional tetap dikunjungi oleh masyarakat.

Sumber foto: Pertarungan Alfamart Indomart