darurat-kekerasan-140405bOleh Bakti Riyanta

Kematian Engeline menyita perhatian masyarakat beberapa waktu yang lalu,meski saat ini masyarakat mungkin sudah lupa dan sampai di mana proses penanganan kasus tersebut. Publik dibuat geram, bagaimana anak usia 8 tahun yang diberitakan hilang oleh keluarganya ternyata selang tiga minggu ditemukan dalam keadaan yang menyedihkan terkubur di pekarangan tempat tinggalnya.  Bagaimana bisa anak yang sedang lucu-lucunya mengalami nasib mengenaskan seperti itu. Masyarakat sangat marah dan geram geram atas kejadian terebut, dan menuntut kasus itu diusut tuntas, serta pelaku diberi hukuman setimpal. Pihak berwajib bekerja keras untuk mengungkap kasus tersebut untuk menemukan pelaku sebenarnya beserta motif pembunuhan keji tersebut.

Kasus tersebut hanya satu dari sekian banyak kasus kekerasan terhadap anak yang banyak terekspose media dan lembaga yang peduli dengan anak. Masih banyak kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi dan tidak terpublikasikan, bahkan setelah kasus Enggeline.  Peristiwa tersebut  di samping memprihatinkan, mesti menjadi titik balik kesadaran masyarakat agar kejadian tersebut tidak terulang dan menimpa anak-anak yang lain.

Anak-anak memang sangat rawan terhadap berbagai tindak kekerasan, seperti kekerasan verbal, kekerasan fisik ringan, penganiayaan, penelantaran, kekerasan seksual. Pelaku kekerasan dapat berasal dari orang lain yang tidak ada hubungan kekerabatan, tetapi yang sering terjadi justeru dari orang-orang terdekatnya seperti orangtua, saudara, atau yang sering berinteraksi.  Berbagai motif melatarbelakangi berbagai tindak kekerasan tersebut, seperti masalah keterbatasan ekonomi, pengetahuan, tetapi yang utama adalah masalah moralitas.

Anak semestinya mendapatkan pengasuhan, perlindungan, pendidikan yang baik di keluarga dan orang-orang di sekelilingnya. Anak memiliki berbagai hak yang mutlak dipenuhi sehingga anak mendapatkan kesejahteraannya. Kesejahteraan itulah akhirnya yang mampu mendukung anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimiliki, sehingga doa setiap orangtua pada setiap anak yang terlahir kelak menjadi anak yang sholeh/sholehah, berguna bagi keluarga, masyarakat, dan negara akan menjadi kenyataan.

Untuk itu diperlukan upaya optimal dari seluruh komponen masyarakat untuk menciptakan situasi dan kondisi yang menjamin pemenuhan kesejahteraan anak. Keluarga mesti memiliki kesadaran dan kemampuan untuk mengasuh,mendidik dan melindungi anak-anaknya. Masyarakat lingkungan anak juga memberi situasi yang mendukung anak untuk mendapatkan kesejahteraan dan peduli jika ada hal-hal negatif terjadi pada anak. Perlu diingat bahwa urusan anak bukan mutlak urusan orangtuanya. Orangtua/keluarga tidak dapat memperlakukan semaunya terhadap anak, jika terjadi hal-hal buruk terhadap anak sudah menjadi urusan masyarakat dan negara sehingga mesti ikut campur agar hal-hal buruk tidak menimpa anak.

Kejadian-kejadian buruk dapat menimpa anak di manapun berada baik yang berada di keluarga yang sosial ekonominya kurang mapun cukup berada. Menyikapi hal tersebut yang utama perlu diketahui apakah anak-anak sudah mendapatkan kesejahteraan dengan baik atau mengalami berbagai masalah. Seluruh komponen masyarakat mesti waspada dan peduli terhadap pemenuhan kesejahteraan anak serta proaktif jika mengetahui terjadi tindakan penelantaran dan kekerasan terhadap anak sekecil apapun. Ingat, bahwa anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi baik adalah karena peran sinergis antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Semua komponen tersebut mesti menciptakan situasi dan kondisi yang positif dan mendukung perkembangan anak secara baik.

Semoga kasus Engeline adalah kasus terakhir. Lindungi anak-anak kita dari kemungkinan berbagai tindakan kekerasan. Selamatkan anak-anak yang rentan mendapatkan perlakuan tidak semestinya. Anak-anak adalah harapan kita di masa depan.

Sumber foto http://news.liputan6.com/read/2052694/kpai-indonesia-tak-punya-indikator-darurat-kekerasan-anak

Magang NVRC 114Bakti Riyanta, adalah pamong belajar muda di Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Daerah Istimewa Yogyakarta dan pemerhati pendidikan anak.