jambore2009Jambore 1000 PTK PNF Tingkat Nasional di Yogyakarta yang baru saja berakhir menyisakan beberapa catatan yang dapat dijadikan perenungan kita bersama sebagai pelaku dan pemangku kepentingan pendidikan nonformal.

Ketika diputuskan penyelenggaraan Jambore PTK PNF Tingkat Provinsi diserahkan oleh UPTD/UPT BPKB/BPPNFI/P2PNFI saya menduga akan terjadi persaingan ketat dalam kompetisi pada tahun ini. Hal ini didasarkan bahwa teman-teman Pamong Belajar memiliki waktu yang cukup dibanding teman-teman di Dinas karena mereka volume pekerjaannya relatif lebih tinggi sehingga mampu menyiapkan kontingen dengan lebih baik. Disamping itu saya melihat bahwa ada ekspektasi yang tinggi pada diri teman-teman di UPTD/UPT untuk meraih prestasi pada ajang Jambore 1000 PTK PNF Tingkat Nasional tahun ini.Namun demikian ketika diumumkan prestasi masing-masing mata lomba ternyata kekuatan belum banyak bergeser antara DIY dan Jawa Tengah. Walaupun demikian terdapat 23 provinsi yang mampu meraih prestasi peringkat pertama, kedua dan ketiga.

Pertanyaannya adalah, apakah prestasi pada ajang jambore ini menggambarkan keadaan sesungguhnya di lapangan? Kiranya hal ini perlu dicermati dan dijadikan refleksi bersama. Mengenai hal ini, saya kira bergantung bagaimana sosialisasi dan pola rekrutmen peserta jambore oleh dinas kabupaten/kota dan seleksi di tingkat provinsi. Ada dua faktor utama yang menentukan prestasi pada tingkat nasional. Pertama, potensi yang dimiliki oleh PTK PNF yang mewakili maju tingkat nasional. Pada tahapan ini tim yuri tingkat provinsi sangat menentukan dalam menentukan siapa yang berhak maju ke tingkat nasional dan memperhitungkan potensi yang dimiliki. Dengan demikian yang maju ke tingkat nasional adalah yang benar-benar nomor wahid, bukan didasari suka atau tidak suka. Apalagi memberi kesempatan atau hadiah untuk jalan-jalan ke Yogyakarta. Kedua, pemusatan latihan sangat menentukan dalam memperbaiki performa dalam presentasi atau simulasi pembelajaran lomba. Selama tiga kali pelaksanaan jambore, kontingen DIY memanfaatkan betul momentum pemusatan latihan dengan memperhatikan kekurangan yang dimiliki oleh setiap peserta kontingen. Simulasi presentasi wajib dilakukan agar setiap peserta mengetahui kelemahan dan kelebihannya. Masukan terhadap simulasi presentasi tidak hanya dilakukan oleh tim asistensi namun juga oleh mantan peserta jambore tahun lalu dan sesama calon peserta. Pada tahapan inilah perlunya BPKB memanfaatkan keberadaan tim asistensi dalam memperbaiki karya tulis, karya nyata dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun calon peserta.

Oleh karena itu jika dikatakan menggambarkan lapangan atau tidak, maka jawabannya adalah relatif. Karena ternyata kompetensi pedagogi dan kompetensi profesional PTK PNF masih perlu banyak diperbaiki. Untuk itulah ajang jambore ini dapat digunakan sebagai wahana refleksi dan meningkatkan kompetensi PTK PNF. Pada tingkat provinsi, jika model pemusatan latihan dilakukan seperti di atas, maka dengan demikian telah terjadi proses peningkatan mutu PTK PNF. Ibaratnya, mirip sebuah diklat pendek. Apabila ini dilakukan oleh semua provinsi secara optimal maka sesungguhnyalah ajang jambore ini akan memberikan dampak yang luar biasa dalam meningkatkan kompetensi pedagogi dan profesional PTK PNF. Nah, pada ajang jambore tingkat nasional apabila terjadi tukar pengalaman antar peserta maka dampak tersebut akan lebih luar biasa lagi.

Namun demikian saya melihat bahwa jenis penghargaan pada Jambore 1000 PTK PNF masih perlu diperluas dengan memberikan penghargaan kepada PTK PNF berdedikasi. Format penyelenggaraan jambore selama ini baru memberikan penghargaan berdasarkan hasil karya tulis, karya nyata dan rencana pelaksanaan pembelajaran atau memberikan penghargaan berdasarkan prestasi. Menurut format ini bagi tutor di daerah terpencil, yang untuk menuju ke lokasi warga belajar harus mengayuh sampan atau naik perahu motor berjam-jam, sangat sulit untuk bersaing pada lomba karya tulis. Waktunya lebih banyak habis tersita untuk mengabdi dan berjuang di medan yang sulit sehingga akan kalah bersaing dengan kawan-kawannya di daerah perkotaan yang relatif lebih mudah mengakses perpustakaan, narasumber dan informasi lainnya. Begitu pula dengan kawan-kawan PTK PNF yang berjuang di pulau-pulau terluar dan daerah perbatasan akan sangat sulit untuk meraih prestasi di tingkat provinsi apalagi tingkat nasional jika format jambore masih seperti sekarang ini.

Untuk itulah, sebelum pelaksanaan jambore tahun ini sebenarnya saya sudah memberikan masukan kepada teman-teman di Direktorat PTK-PNF agar memberikan penghargaan PTK PNF berdedikasi mulai tahun ini. Penghargaan ini diberikan kepada PTK PNF yang berjuang dan mengabdi di daerah terpencil, pulau terluar, daerah perbatasan dengan berbagai tingkat kesulitan namun ia mampu melakukan layanan pendidikan nonformal secara optimal. Harapan saya dulu, penghargaan PTK PNF berdedikasi ini pertama kali dapat diberikan pada ajang Jambore 1000 PTK PNF tahun 2009 di Yogyakarta, sehingga sebaran penghargaan/prestasi akan lebih menyebar lagi. Sehingga penghargaan kepada PTK PNF tidak hanya terpolarisasi di DIY dan Jawa Tengah, karena saya yakin banyak kawan-kawan PTK PNF di luar Jawa di daerah yang sulit yang sudah berdarah-darah melakukan layanan pendidikan nonformal dan sejatinya mereka inilah yang layak mendapat penghargaan. Dan mereka untuk dinyatakan berdedikasi tidak perlu melalui tahapan presentasi yang lebih mirip ujian skripsi atau bahkan ujian tesis. Pernyataan berdedikasi adalah bukti nyata yang ia lakukan di lapangan dengan pemaparan sederhana serta testimoni dari pemangku kepentingan di daerah. Pada tahapan ini perlu ada verifikasi sebelum ia dinyatakan sebagai PTK PNF berdedikasi tingkat nasional.

Bagaimana???