fpbi truma healingOleh Edi Basuki

Awal tahun 2014 sampai hari ini, tanah air tercinta masih saja diwarnai oleh bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, gempa.  Begitu juga dengan erupsi gunung berapi pun turut menambah derita masyarakat yang berdiam di kawasan rawan bencana, karena harus mengungsi menghindari petaka alam.

Tentu, hidup di pengungsian tidaklah senyaman hidup di rumah sendiri (walau rumah sendiri sangat sederhana, gubuk reot dibawah standar kemiskinan). Sementara hidup berjubel bersama dalam suasana prihatin, galau dan riuh oleh aneka keluhan. Rasa cemas akan keadaan dan keselamatan harta benda, rumah, sawah ladang dan ternak yang tertinggal pun menyeruak. Belum lagi beberapa penyakit turut mengancam di pengungsian. Semua ini merupakan pemicu stress, bahkan depresi bagi para pengungsi, jika tidak segera tertangani.

Beberapa relawan yang peduli terhadap kondisi diatas, segera menggelar kegiatan trauma healing, dengan mengajak anak-anak pengungsi bermain bersama menghibur diri, sejenak melupakan derita yang dihadapi. Relawan percaya, jika anak-anak bergembira dan tidak rewel di pengungsian, akan berpengaruh secara signifikan kepada “perasaan” orang tuanya yang galau karna harus menata masa depannya lagi..

Sesungguhnyalah kegiatan trauma healing ini sudah bisa dilakukan oleh bunda PAUD yang setiap harinya biasa mengajak muridnya bermain, bernyanyi, menari (goyang badan), menggambar dan kegiatan yang bergembira secara bersama-sama. Ya, bunda PAUD memang jagonya kegiatan ini (trauma healing). Namun sayang, keterlibatan bunda PAUD pada saat tanggap darurat bencana belum tampak. Peran bunda PAUD yang cantik dan genit itu masih didominasi oleh relawan, yang nota bene tidak pernah ikut diklat pendidik paud yang diisi oleh materi nyanyi dan tepuk tangan.

Ya, bunda PAUD masih belum banyak yang tergerak untuk peduli dan mengabdi pada tugas-tugas kemanusiaan, melakukan penanggulangan bencana di bidang pendidikan, khususnya klaster trauma healing, untuk anak usia dini dan usia sekolah dasar (bahkan usia remaja). Mungkin, bunda PAUD belum mendapat perintah (surat tugas) dari atasannya untuk berbuat. Sehingga enggan untuk terjun di bidang penanggulangan bencana. Karena, dibalik surat tugas itu, ada uang transportnya yang selalu ditunggu oleh bunda PAUD, termasuk juga oleh insan pendidik nonformal pada umumnya.

Artinya, pejabat di lingkungan pendidikan masih belum peduli terhadap kegiatan penanggulangan bencana, semuanya masih tergantung petunjuk pemerintah daerahnya masing-masing. Padahal, dalam konsep kebencanaan, insan pendidikan, termasuk bunda paud, dituntut mampu melakukan penyelamatan secara terorganisir pada saat terjadi bencana, serta melakukan edukasi pengurangan resiko bencana kepada siswanya disaat pra bencana.

Kegiatan trauma healing yang dilakukan relawan itu sangat beragam sesuai latar belakang keilmuan dan pengalaman masing-masing relawan, namun intinya sama, mengajak dan menciptakan suasana bergembira di pengungsian melalui berbagai kegiatan dengan konsep mudah, murah, meriah dan menyenangkan.

Sekedar contoh, seperti yang dilakukan oleh relawan di pengungsian bencana Sinabung dan erupsi gunung Kelud, mereka dengan telaten, sabar dan penuh persuasif, mengajak anak-anak berkumpul sambil bernyanyi membuat lingkaran, diselingi aneka pertanyaan berhadiah wafer, permen dan makanan ringan lainnya. Kadang ada yang memutar lagu, memutar film pengetahuan, mengadakan lomba menggambar/mewarnai, mengajak olahraga, futsal dan sejenisnya yang bersifat menghibur.

Dengan bantuan berbagai pihak, relawan pun membuka “tenda baca” yang menyediakan aneka buku bacaan untuk anak-anak dan remaja. Semua dilakukan dengan bahasa kemanusiaan, membantu meringankan penderitaan sesamanya.

Sungguh, seandainya kegiatan trauma healing ini dilakukan oleh bunda PAUD yang genit-genit itu, pastilah hasilnya akan semakin berdampak nyata, karena bunda PAUD telah memiliki ilmunya, juga telah menguasai metode belajar sambil bermain, sehingga bunda PAUD bisa dititipi pesan bagaimana cara menyelamatkan diri jika terjadi bencana, bagaimana mengenal tanda-tanda akan terjadinya bencana, mitigasi, evakuasi serta mencari jalan keluar pada situasi darurat. Tak kalah pentingnya adalah pesan-pesan akan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi musibah, serta berusaha bangkit menuju kehidupan yang lebih baik. Ya, bunda PAUD pasti bisa mengemas pesan-pesan pendidikan lewat pembelajaran di luar kelas yang mengenangkan.

Sekali lagi, sampai saat ini bunda PAUD masih belum banyak yang sadar akan pentingnya berbagi, menolong sasamanya saat terjadi bencana, karena bunda PAUD masih selalu saja menunggu petunjuk dan perintah. Belum banyak yang berani berinisiatif karena takut salah, juga takut disalahkan. Sehingga relawanlah yang tetap berperan dalam kegiatan trauma healing pada situasi tanggap darurat. Ya, begitulah nyatanya*. [edibasuki/humasipabi.pusat_online]

ebas-1*) Edi Basuki adalah pamong belajar BPPAUDNI Regional II Surabaya saat ini menjabat sebagai Humas Pengurus Pusat IPABI