anak paud josOleh Edi Basuki

Surabaya (07/3/2014) Sungguh, ternyata keberadaan program PAUD dan bunda paud itu bisa dititipi pesan-pesan pembangunan. Seperti halnya kegiatan PKK dan majlis taklim yang ada di kampung-kampung, hanya beda sasaran dan tempat. Masalah kesehatan keluarga, kebersihan lingkungan rumah, pentingnya keluarga berencana, bahkan masalah gizi untuk anak pun perlu disampaikan oleh bunda paud kepada orang tua atau wali anak usia dini.

Bunda paud sangat percaya jika asupan gizi anak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak di masa emasnya. Dengan kata lain, periode emas atau periode kritis sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak, bahkan akan menentukan masa depannya.

Sehingga, dalam setiap kegiatan parenting, bunda paud dengan menggebu memaksa orang tua agar memperhatikan asupan gizi anaknya, memperhatikan kebersihan lingkungan rumah tangganya serta aktif mengikuti program posyandu untuk mengetahui perkembangan kesehatan anaknya. Semuanya bersifat instruktif sesuai yang diperoleh bunda paud dalam diklat “Asupan Gizi dan Tumbuh Kembang Anak” sebagai persyaratan menjadi instruktur paud yang bersertifikat.

Padahal di alam nyata, belum tentu bunda paud sudah menerapkan ilmunya dalam lingkungan keluarganya. Misalnya, karena keterbatasan ekonomi, rumah tangga bunda paud belum bisa memenuhi kebutuhan gizi keluarganya, mereka masih pegang prinsip yang penting asal bisa makan kenyang dan rutin setiap hari. Masalah gizi, nomor dua, bukan karena tidak mengerti tapi lebih karena keterpaksaan, maklum insentif bunda paud masih dibawah standar upah buruh minimal.

Ya, kadang bunda paud memang perlu pandai bermain peran seolah-olah, seperti “Kaum Jarkoni” (Iso Ujar Ora Iso Nglakoni). Ya, mungkin itulah salah satu ciri pendidik Indonesia pada umumnya, harus bisa ber-Jarkoni-ria, kemeruh, keminter, sok tahu, agar ‘dagangannya’ diminati konsumennya. Termasuk masalah tumbuh kembang anak yang hanya di dasarkan pada teori-teori kesehatan saja, tanpa mempertimbangkan campur tangan Tuhan (nasib).

Mudah-mudahan teori tentang masalah asupan gizi itu bukan sebuah kebenaran yang mutlak. Karena, jika itu benar, maka betapa tidak adilnya Tuhan, betapa teganya Tuhan menciptakan sebagian manusia dalam keadaan melarat. Sungguh, betapa sengsaranya kaum proletar miskin yang tidak bisa memenuhi gizi anak-anaknya, sehingga akan menjadi bodo permanen dalam kubangan kemiskinan struktural.

Dengan kata lain, pertanyaannya, bagaimana anak dari strata melarat yang setiap harinya belum tentu mendapatkan asupan gizi dan pola makan yang baik sesuai teori kesehatan, bisa merubah nasibnya?. Apakah mereka akan melarat terus seumur hidupnya?, karena generasi yang dilahirkan goblok, otaknya tumpul karena kurang asupan gizi yang dipersyaratkan oleh ilmu kesehatan.

Untungnya teori yang disampaikan oleh dokter anak dan ahli gizi itu tidaklah sepenuhnya benar. Teori yang disampaikan itu hanyalah sebuah upaya untuk sehat dan merangsang pertumbuhan otak agar bisa bekerja secara opimal di masa emasnya.

Ya, sesungguhnyalah ada orang sukses datang dari strata miskin, dari golongan yang hanya mementingkan ‘asal kenyang’. Semua itu bisa terjadi karena Tuhanlah yang langsung menskenario kehidupan, bukan yang lain, bukan pula ilmu kesehatan.

Salah satu kisah yang bisa dicontohkan disini adalah seperti yang dimuat dalam salah satu laman Presidenri.go.id. Tentang Birrul Qadriyah. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, itu bercerita, seusai lulus SMA lalu, ia menyampaikan niatnya untuk melanjutkan kuliah. Tapi orangtuanya ‘hanya’ buruh tani dengan penghasllan Rp 5 ribu sekali ikut tanam padi.

Untuk meneguhkan tekadnya, gadis mungil itu menulis di dinding kamarnya tekad tersebut. Seorang anak desa yang miskin bertekad menjadi dokter. “Orang tertawa, mana mungkin anak seorang buruh menjadi dokter,” Birrul meneruskan ceritanya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  yang mendengarkan testimoni Birrul pun terharu. Bahkan sempat menitikan air mata. Ada banyak Birrul Birrul lain yang tak sempat memberikan testimoninya. Susilo Bambang Yudhoyono sendiri terlahir sebagai anak desa di Pacitan, Jawa Timur, dengan kondisi hampir serupa. “Saya ikut menitikkan air mata. Karena itu pulalah yang dulu saya alami dan rasakan,” kata Susilo Bambang Yudhoyono dengan suara agak terbata.

Sungguh banyak Birrul Birrul lain yang orangtuanya tidak pernah peduli terhadap asupan gizi Birrul kecil karena setiap hari harus bergelut dengan kemelaratan hidup, namun bisa sukses karena campur tangan Tuhan, bukan gizi semata, bukan pula pelajaran yang selalu diajarkan oleh bunda paud yang sering ber-jarkoni-ria dalam melakukan perannya.* [edibasuki/humasipabi.pusat_online]

ebas-1*) Edi Basuki adalah pamong belajar BPPAUDNI Regional II Surabaya saat ini menjabat sebagai Humas Pengurus Pusat IPABI