logo hptik 200 X 206Yogyakarta (30/10) Forum Pengelola Teknologi Informasi Pendidikan Nonformal (FPTI PNF) sudah lahir sejak tahun 2006, namun barangkali keberadaan dan perannya masih dipertanyakan oleh sebagian pihak. Secara internal oganisasi pun diakui bahwa FPTI PNF belum mampu memberikan peran yang signifikan terhadap sektor pendidikan nonformal, khususnya bagi pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal. Karena itulah revitalisasi FPTI PNF dan berubah menjadi Himpunan Penggiat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Nonformal (HPTIK PNF) diharapkan mampu berperan lebih aktif dalam mengedukasi pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal, termasuk pendidikan anak usia dini, di bidang kompetensi TIK.

Anggota HPTIK PNF adalah para penggiat teknologi informasi pada lembaga pendidikan nonformal atau para pendidik dan tenaga kependidikan yang telah berkontribusi terhadap pengembangan teknologi informasi pendidikan nonformal. Saat ini belum banyak penggiat serta pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal yang mendapatkan sentuhan TIK secara disengaja dan terstruktur oleh asosiasi atau forumnya.

Oleh karena itulah strategi awal yang dikembangkan HPTIK PNF adalah membangun jembatan (bridging) dan membangun nama organisasi (branding).

  1. Membangun Jembatan

Pemanfaatan TIK di kalangan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal masih rendah, sementara itu perkembangan pemanfaatan TIK di negara lain sudah maju. Bahkan pemanfaatan TIK pendidik dan tenaga kependidikan nonformal masih kalah dengan jalur pendidikan formal yang mendapatkan perhatian lebih besar dari pemerintah dan masyarakat.

Sehubungan dengan hal tersebut, diharapkan HPTIK PNF dapat menjadi jembatan bagi:

  1. Antara penawaran dan permintaan

Kegiatan peningkatan kompetensi TIK sesungguhnya sudah dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat, HPTIK PNF hadir agar terjadi peningkatan kompetensi TIK di kalangan pendidik dan tenaga pendidik pendidik nonformal, yang diharapkan memberikan dampak percepatan literasi komputer pada masyarakat umumnya. Oleh karena itu HPTIK PNF menjadi jembatan antara penawaran dan permintaan.

Banyak pendidik pendidikan nonformal, baik guru PAUD, instruktur kursus, tutor, dan bahkan pamong belajar yang membutuhkan sosialisasi dan edukasi TIK, pembuatan media belajar, pemanfaatan internet sehat dan lain sebagainya.

Sementara itu banyak pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal yang memiliki kompetensi TIK diharapkan mampu memberikan sosialisasi dan edukasi. HPTIK PNF berperan menjadi jembatan untuk mempertemukan keperluan pendidik dan tenaga kependidikan PNF (demand) dengan penggiat TIK PNF yang memiliki kompetensi TIK (supply).

b. Antar asosiasi atau forum PTK PAUDNI

Pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal menurut jenis masing-masing tergabung pada asosiasi atau forum, misalnya FKPBM, HIPKI, HISPPI, IPI, IPABI, FTPKN, FKTPK Pusat, dan TBM. Pada setiap asosiasi/forum pasti ada kebutuhan pemanfaatan TIK, namun belum tentu memiliki sumber daya yang memadai sesuai dengan kebutuhan. Pada tataran inilah HPTIK PNF diharapkan mampu menjembatani kebutuhan masing-masing anggota maupun asosiasi/forum secara kelembagaan.

  1. Antara penggiat dan pemerintah

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya Ditjen PAUDNI, banyak menyelenggarakan program dan menawarkan program kemitraan yang memanfaatkan TIK. Begitu pula pada kementerian lainnya maupun pemerintah daerah. Diharapkan HPTIK PNF dapat menjadi jembatan antara penggiat TIK dan pemerintah dengan menjalin kemitraan dengan instansi pemerintah, baik di pusat maupun daerah.

  1. Antara penggiat dengan perusahaan/lembaga donor

Aktivitas penggiat TIK PNF sudah barang tentu memerlukan dukungan dana. Dukungan dana diharapkan tidak hanya dari pemerintah, namun juga perusahaan swasta atau lembaga donor sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. HPTIK PNF diharapkan dapat menggandeng berbagai perusahaan swasta atau lembaga donor untuk melakukan kegiatan CSR atau program kepedulian masyarakat lainnya.

2. Membangun Nama Organisasi

HPTIK PNF sudah barang tentu masih terasa asing bagi masyarakat umum, bahkan di dunia pendidikan nonformal sekalipun, karena perubahan nama organisasi dari FPTI PNF menjadi HPTIK PNF baru saja dilakukan. Agar organisasi HPTIK PNF dikenal masyarakat diperlukan strategi membangun nama organisasi (branding). Membangun nama organisasi tidak bisa semata-mata hanya sampai pada tataran konsep semata, harus ada karya nyata bagi dunia pendidikan nonformal dan masyarakat umumnya. Namun demikian karya nyata belumlah cukup. Agar HPTIK PNF lebih dikenal luas, perlu dokumentasi dan publikasi sehingga kegiatan diketahui masyarakat luas.

Untuk itu semua kegiatan HPTIK PNF harus didokumentasikan dan dipublikasikan melalui web http://fitpnf.org dan media jejaring sosial.