Bolehkah Ada Nilai Ijazah Pendidikan Kesetaraan yang Tidak Diisi?

Yogyakarta (01/05/2020) “Satuan pendidikan kami tidak ada kegiatan belajar mata pelajaran Seni Budaya serta Pendidikan Jasmani Olahraga, dan Kesehatan pada ijazah nilai boleh dikosongkan?” Berkali-kali saya mendapatkan pertanyaan tersebut melalui japri WhattsApp. Bolehkah ada nilai ijazah yang tidak diisi alias dikosongkan?

Prinsipnya nilai mata pelajaran yang dicantumkan pada  ijazah menggambarkan struktur kurikulum yang ditempuh selama mengikuti proses pendidikan sesuai dengan jenjangnya. Seluruh lulusan pendidikan kesetaraan pada tahun ini masih menggunakan kurikulum lama, oleh karena itu mata pelajaran yang ditulis pada ijazah sesuai dengan struktur kurikulum sebagaimana tercantum pada Permendiknas Nomor 14 Tahun 2007 tentang Standar Isi Program Paket A, Program Paket B, dan Program Paket C.

Namun demikian ada beberapa mata pelajaran pada Permendiknas tersebut yang tidak dicantumkan dalam ijazah yaitu mata pelajaran keterampilan fungsional dan pengembangan kepribadian profesional. Kedua mata pelajaran tersebut dipandang bukan mata pelajaran yang bersifat akademik sehingga tidak dicantumkan pada ijazah. Keterampilan fungsional akan lebih bermakna jika peserta didik diikutkan uji kompetensi. Lebih dari itu, jenis keterampilan yang diikuti selama menempuh program pendidikan kesetaraan bisa lebih dari satu jenis. Sedangkan mata pelajaran pengembangan kepribadian profesional pada pendidikan formal adalah pengembangan diri, sehingga cukup dilaporkan pada buku laporan hasil belajar. Jadi sebenarnya pengembangan kepribadian profesional/pengembangan diri bukan mata pelajaran jika dilihat hakekatnya.

Biasanya yang sering tidak ada nilai rapor adalah dua mata pelajaran sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini, yaitu mata pelajaran Seni Budaya serta Pendidikan Jasmani Olahraga, dan Kesehatan. Kenapa? Karena satuan pendidikan seakan mendapatkan warisan bahwa kegiatan belajar mengajar hanya dilakukan pada mata pelajaran yang diujiannasionalkan. Dulu ijazah pendidikan kesetaraan masih satu muka saja, yaitu hanya ada halaman belakang. Belum ada tampak halaman belakang yang mencantumkan nilai seluruh mata pelajaran. Sehingga ketika menuliskan blangko ijazah tidak mengalami kebingungan karena tidak dituntut untuk menuliskan nilai seluruh mata pelajaran.

Mulai tahun 2014, atau tahun pelajaran 2013/2014, blangko ijazah pendidikan kesetaraan terdiri dari dua muka. Depan dan belakang, tidak satu muka hanya bagian depan saja seperti tahun sebelumnya. Pada tahun 2014 ini sempat membuat kebingungan PKBM/SKB karena harus menuliskan semua nilai mata pelajaran. Sementara hanya menyelenggarakan pembelajaran pada mata pelajaran yang diujiannasionalkan.

Kemudian mulai tahun pelajaran 2016/2017 ijazah pendidikan kesetaraan untuk pertama kalinya ditanda-tangani oleh satuan pendidikan yang bersangkutan (Kepala SKB/Ketua PKBM). Bukan lagi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Perkembangan lainnya, ujian nasional tidak lagi menentukan kelulusan.  Nilai dari satuan pendidikan yang menentukan kelulusan.

Kembali pada pokok persoalan, kebiasaan melakukan pembelajaran pada mata pelajaran yang akan diujiannasionalkan pada saat ini sangat tidak relevan lagi. Saat ini ujian nasional sudah ditiadakan. Apakah berarti tidak perlu melakukan pembelajaran apa pun karena ujian nasional tidak ada. Kan menjadi aneh logika mengajarkan mata pelajaran yang diujiannasional saja.

Pada Permendikbud Nomor 43 Tahun 2019 pada pasal 6 ayat (1) huruf a disebutkan bahwa peserta didik dinyatakan lulus setelah menempuh seluruh program pembelajaran. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa peserta didik wajib mengikuti seluruh program pembelajaran atau seluruh mata pelajaran. Artinya tidak boleh ada mata pelajaran yang tidak disajikan. Mata pelajaran pendidikan kesetaraan toh bisa disajikan dalam bentuk belajar mandiri. Jadi tidak harus dalam bentuk tatap muka terjadwal. Di samping itu ujian mata pelajaran tidak harus dalam bentuk ujian tulis, namun bisa juga berbentuk penugasan, portofolio atau bentuk lainnya. Jadi tidak ada halangan untuk menyajikan nilai mata pelajaran Seni Budaya serta Pendidikan Jasmani Olahraga, dan Kesehatan. [fauziep]

2 tanggapan pada “Bolehkah Ada Nilai Ijazah Pendidikan Kesetaraan yang Tidak Diisi?”

    1. Bisa dengan menggunakan modul dan belajar mandiri, kemudian pembelajaran secara blended. Blended mandiri, tutorial dan tatap muka (bisa virtual). Jadi tidak harus tatap muka semua. Akan merepotkan jika tatap muka semua.

Komentar ditutup.