Roadshow Kinkin 03 2013 068Yogyakarta (24/03) Aktivitas ‘blusukan’ bagi penggiat pendidikan nonformal sebenarnya bukan barang baru. Untuk memahami apa kebutuhan belajar dan layanan pendidikan nonformal yang bisa diberikan kepada masyarakat, harus turun ke lapangan, maka harus blusukan.

Dalam bahasa rincian tugas pokok pamong belajar, identifikasi kebutuhan belajar masyarakat harus dilakukan secara blusukan. Tidak dari belakang meja. Begitu pula pamong belajar yang hendak mengembangkan model, harus blusukan. Agar model yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Birokrasi pendidikan nonformal juga harus blusukan, agar kebijakan yang dihasilkan bisa mengatasi permasalahan di lapangan. Bukannya menambah masalah baru.

Siang itu ditengah terik matahari yang menyengat di kota Yogyakarta, saya bersama lembaga swadaya masyarakat Kinara-Kinari yang dipimpin Wiwien Widyawati Rahayu blusukan ke bantaran Kali Winongo. Blusukan dimaksudkan untuk mengetahui apa yang bisa dilakukan secara bersama-sama antara Kinara-Kinari dengan Pusat Kegiatan Belajar (PKBM) Griya Mandiri yang terletak di bantaran Kali Winongo.

PKBM Griya Mandiri dipimpin oleh Endang Rochjiani yang sosok penggiat pemberdayaan masyarakat. Tak heran jika Endang yang tinggal di pinggir Kali Winongo ditunjuk sebagai koordinator zona utara Forum Komunikasi Winongo Asri.

Forum Komunikasi Winongo Asri yang dikukuhkan oleh Walikota pada tahun 2009, melakukan pendampingan kepada masyarakat dalam melakukan penataan Kali Winongo. Zona penataan Kali Winongo dibagi ke dalam tiga zona, zona utara, zona tengah dan zona selatan. Secara kebetulan zona utara dipimpin oleh Endang Rochjiani yang juga aktif melakukan pendampingan masyarakat melalui PKBM Griya Mandiri. Penataan kawasan Kali Winongo zona tengah meliputi tujuh RW yang terdiri dari delapan kelompok komunitas.

Peran PKBM Griya Mandiri selama ini memfasilitasi kegiatan Forum Komunikasi Winongo Asri, khususnya zona tengah. Pertemuan kelompok komunitas zona tengah selalu dilakukan di PKBM Griya Mandiri yang juga disebut dengan ‘Rumah Bambu’.

Dengan konsep kegiatan PKBM ‘Rumah Bambu’ inilah Endang Rochjiani berhasil menyabet Juara I Nasional Pengelola PKBM dalam Apresiasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan PAUDNI di Mataram, NTB pada tahun 2011.

Roadshow Kinkin 03 2013 056Penataan kawasan Kali Winongo secara fisik sudah dimulai, bahkan warga merelakan sebagian tanah untuk penataan kawasan sungai. Hal ini tidak terlepas dari kesadaran masyarakat untuk menciptakan sungai yang bersih. Ke depan penataan kawasan Kali Winongo menggunakan konsep kampung wisata yang dilakukan secara bertahap mulai dari utara hingga selatan. Oleh karena itu diharapkan penataan sungai memberika dampak peningkatan aspek ekonomi dan sosial serta terjaganya kondisi lingkungan sungai yang asri.

Roadshow Kinkin 03 2013 065Berdasarkan hasil blusukan, disarankan agar segera disusun grand desain penataan kawasan Kali Winongo. Grand desain atau cetak biru penataan kawasan Kali Winongo ini akan memudahkan pihak terkait untuk memberikan bantuan dan peransertanya sehingga tidak terjadi tumpang tindih.

Dari sisi pendidikan nonformal banyak sekali yang bisa dilakukan di kawasan Kali Winongo. Mengedukasi masyarakat dalam melakukan pengelolaan sampah merupakan langkah kecil yang bisa dilakukan sehingga bisa mendukung kawasan bantaran sungai yang asri. Terlebih Kali Winongo ditargetkan menjadi tujuan wisata air pada tahun 2030, yang mana memerlukan penataan lereng dan tepian sungai yang masih banyak bertebaran sampah.

Lebih dari itu, lereng pada bantaran sungai bisa dimanfaatkan sebagai kebun sayuran menyusul beberapa titik yang sudah ada kolam atau keramba ikan yang dibudidayakan oleh masyarakat. Dari pada lereng landai ditumbuhi dengan semak belukar, bisa lebih bermanfaat jika ditanam sayuran. Sehingga kolam ikan dan keramba ikan akan tampak asri berdampingan dengan kebun sayuran yang dibuat terasering dengan teknologi sederhana.

Dan terakhir adalah bagaimana mengedukasi kepada masyarakat agar sungai tidak lagi dijadikan pembuangan sampah yang paling primitif. Tidak lagi menjadi tempat pembuangan limbah rumah tangga dan limbah industri.