008_wosmsym1Ngeblog bagi seorang blogger didasarkan pada niat untuk berbagi pengalaman. Tidak ada seorang pun yang membayar blogger ketika ia menulis pengalamannya dan berbagi informasi lainnya. Blogger melakukan aktivitas bak sukarelawan demi pencerahan bagi orang lain. Niat untuk berbagi dan bekerja dengan sukarela inilah yang semestinya menjadi paradigma pembina pramuka dalam melakukan aktivitas membina kaum muda Indonesia.

Walaupun ada blogger yang melakukan aktivitas bertujuan untuk mencari uang melalui internat, namun sebagian besar blog yang bersifat mencerahkan orang lain didasari atas niat berbagi dan dilakukan secara sukarela. Jika ia mendapatkan uang bukan akibat langsung dari aktivitas ngeblognya. Padahal menulis bagi sebagian orang merupakan pekerjaan yang sulit dan harus meluangkan waktu. Bahkan untuk mengakses internet seorang blogger harus mengeluarkan uang, namun dunia blogging semakin marak dan menarik diikuti.

Saat ini Gerakan Pramuka sedang mengalami kekurangan pembina pramuka, baik kekurangan dari sisi kuantitas maupun kualitas. Kurangnya jumlah pembina disebabkan membina Pramuka bukan merupakan aktivitas yang menarik karena tidak mendatangkan keuntungan finansial. Untuk memenuhi kebutuhan pembina pramuka ini, sebagian besar gugusdepan (yang berpangkalan di sekolah) menugaskan guru untuk menjadi pembina pramuka. Karena guru yang ditugaskan kurang memiliki pemahaman yang benar tentang ide dasar dan praktek pendidikan kepramukaan maka kualitas pendidikan kepramukaan yang dilaksanakan pun menjadi kurang baik.

Guru yang ditugasi menjadi pembina pramuka didasarkan oleh perintah kepala sekolah, sehingga ia tidak sanggup menolak. Artinya tugas membina Pramuka tidak berangkat dari niat awal dari diri sendiri untuk berbagi kebaikan membina kaum muda melalui pendidikan kepramukaan. Niat awal inilah yang akan mempengaruhi kualitas seorang pembina pramuka.

Sebagian gugusdepan yang berpangkalan di sekolah ada yang merekrut pembina pramuka dari luar sekolah. Mereka ini biasanya adalah anggota atau mantan anggota Dewan Kerja atau aktivis Gerakan Pramuka yang bersedia mengabdikan dirinya menjadi pembina. Namun jumlahnya masih sedikit sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan pembina pramuka. Di samping itu posisi pembina pramuka dari luar sekolah biasanya tidak mendapatkan tempat sebagaimana mestinya dalam stuktur organisasi gugusdepan. Sehingga ia tidak bisa melakukan pengembangan gugusdepan secara maksimal sesuai dengan rambu-rambu Gerakan Pramuka.

Ketika dunia blogging diwarnai dengan orang-orang yang secara sukarela untuk berbagi kebaikan dan berbagi pengalaman, bisa menginspirasi Gerakan Pramuka untuk menambah jumlah pembina pramuka. Saya pikir masih banyak orang di republik ini yang bersedia mengabdikan dirinya untuk membina kaum muda Indonesia melalui pendidikan kepramukaan.

Persoalannya adalah bagaimana mereka diberi akses ke gugusdepan (yang berpangkalan di sekolah). Untuk itulah perlu adanya kesepakatan antara Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementrian Dalam Negeri. Kesepakatan itu intinya memberikan ruang dan peluang kepada sukarelawan (di luar sekolah) untuk mengabdikan dirinya sebagai pembina pramuka di gugusdepan yang berpangkalan di sekolah.

Di sisi lain Gerakan Pramuka memperbaiki pelaksanaan Kursus Mahir Pembina Pramuka (Dasar dan Lanjutan) menjadi lebih berkualitas. Sebenarnya struktur kurikulum kursus sudah bagus, yang perlu diperbaiki adalah praktek penghayatan mulai dari penghayatan golongan siaga, penghayatan golongan penggalang, penghayatan golongan penegak dan pandega. Materi praktek penghayatan tersebut harus benar-benar dilakukan secara berkualitas sehingga memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang praktek latihan kepramukaan.

Bantuan program sudah tersedia dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk pelaksanaan Kursus Mahir bagi Pembina Pramuka. Tahun 2012 bantuan tersebut dialokasikan ke delapan UPT Pusat Ditjen PAUDNI (P2PNFI dan BPPNFI). Alangkah baiknya jika rekrutmen peserta diperluas tidak hanya dari unsur guru, pamong belajar dan birokrasi saja. Namun membuka kesempatan orang dewasa lainnya, yang memiliki niat berbagi kebaikan, untuk mengikuti kursus tersebut.

Saya pikir sudah saatnya memberikan ruang dan peluang kepada orang dewasa yang memiliki niat dan karakter seperti blogger. Diharapkan rekrutmen pembina pramuka tidak hanya berasal dari kalangan guru di sekolah itu. Pun perlu memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada penegak pandega guna mengikuti Kursus Pembina Pramuka, dan mendistribusikan mereka ke gugusdepan sebagai aktivitas bina satuan. Terutama penegak dan pandega yang mempunyai niat berbagi dan mengabdi bagi kaum muda.