Yka 10aKebersamaan antara pemimpin dan rakyat  sudah nyata sejak awal Pangeran Mangkubumi melawan VOC Belanda. Bahkan mengental saat dinobatkan menjadi Susuhunan di Kabanaran 11 November 1749. Sikap guyub golong-gilig ini tidak mengherankan.  Sejak remaja belia hingga menjadi pangeran muda, Raden Mas Sujana ini sudah bergaul akrab dengan masyarakat desa. Dengan kata lain, satu-padunya  kawula atau rakyat dengan pemimpin atau gusti tidaklah muncul seketika. Satu hati dan satu jiwa dalam bentuk tekad, cita-cita dan tujuan bersama dibangun dengan tekun, sabar dan cerdas. Lebih dari itu, diwujudkan dalam tindakan nyata cermin kegigihan, kesungguhan hati dan jiwa besar.

Kisah-kisah cerita rakyat mencerminkan kedekatannya dengan rakyat kecil. Ia juga dengan rendah hati mau belajar dari mereka. Suatu hari Mangkubumi terdesak dalam pertempuran kemudian bersembunyi di pedusunan.  Oleh seorang ibu tua ia dijamu jenang bekatul untuk sarapan. Ia menolak makan karena tergesa-gesa pergi sedangkan jenang bekatulnya masih panas. Lalu ibu itu berkata, “Jenang bekatul dimakan saat masih panas, jangan ditunggu sampai dingin. Caranya makan disisir dengan suru dari pinggir sampai habis di tengah.”

Seketika Mangkubumi minta maaf dan mengucapkan terima kasih. Jenang bekatul pelan-pelan dengan tenang dinikmati sampai habis. Ia baru saja mendapat pencerahan dari kebingungannya mengatasi musuh yang lebih besar dan kuat. Kekuatan jangan dihantam langsung pada pusatnya. Tetapi dengan cermat, sabar, telaten dan gigih dikalahkan mulai dari kekuatan-kekuatan pinggirnya, sambil memperhatikan perkembangan di pusat kekuatannya. Begitulah VOC Belanda yang kuat bersenjata lengkap bisa dihancurkan dengan kekuatan gerilya rakyat seadanya.

Yka 10bPada waktu Mangkubumi memulai pembangunan keraton, ia melepas lelah di pinggir telaga di bawah pohon beringin. Di seberang telaga tampak seseorang sedang asyik memancing. Orang itu dengan begitu mudah mengail sehingga mendapat banyak ikan. Mendekatlah Mangkubumi agar dapat memperhatikan secara lebih seksama. Terkejutlah ia, begitu melihat orang itu memancing tanpa kail, hanya dengan carang dan seutas tali.

Dengan tenang orang aneh itu berkata, “Beginilah cara memancing yang benar. Dapat banyak, tak satupun ikan tersakiti. Tangkai carang ini namanya gayuhan. Cukuplah disodorkan untuk menjangkau tempat yang lebih jauh ke tengah dan lebih dalam. Nanti ikan-ikan yang tertarik akan mengejar dan menangkap sendiri tali penghubung pengikat gayuhan.”  Mangkubumi tersungkur mengucapkan terima kasih. Ia merasa terilhami oleh kata-katanya. Nama orang itu Ki Jaga. Tuturnya lembut, santun namun tajam. Nasehatnya mengingatkan Mangkubumi kepada almarhum Kyai Kintel sahabatnya.

Yka 10cPenjelasan itu menjadi jalan keluar atas kesulitannya membangun kekuatan bersama orang banyak. Ia menemukan kawan semu lawan sejati. Ada pula lawan semu kawan sejati. Kalau ingin mendapatkan dukungan rakyat, jangan menyuap, mengancam, apalagi menyakiti. Tunjukkan cita-cita, tujuan atau gegayuhan kepada orang lain beserta tali penghubung dan pengikatnya. Beri kesempatan orang-orang berpikir jernih dan mempertimbangkan matang-matang. Dengan begitu orang berani mengambil sikap jelas dan keputusan  tegas. Orang yang mantap bergabung tidak akan ragu-ragu dan sedikit menimbulkan perkara.  Mereka juga akan rela berkorban untuk suatu tujuan bersama yang lebih besar. Seperti apa kerajaan rancangan Sultan? ***

Seri Berdirinya Keraton Ngayogyakarta merupakan hasil penyusunan bahan ajar bagi anak dan remaja yang disusun oleh tim pengembang Pamong Belajar BPKB DIY. Tulisan terdiri dari 14 judul, yaitu:

  1. Pangeran Mangkubumi
  2. Geger Kartasura, Berdirinya Kraton Surakarta
  3. Panggilan Jiwa Ksatria
  4. Pertempuran Dua Panglima Besar
  5. Ontran-ontran Keraton Surakarta
  6. Titik Balik
  7. Runtuhnya Benteng VOC
  8. Kembalinya Tahta Mataram
  9. Hamemayu Hayuning Bawana
  10. Besar dari yang Kecil
  11. Membangun Peradaban Baru
  12. Yogyakarta Kotaraja
  13. Kotaraja Menyimpan Makna
  14. Selain Makna juga Kenangan