Sumber: http://archive.kaskus.co.id/thread/2882421/160

Sumber Foto: http://archive.kaskus.co.id/thread/2882421/160

Bakauheni (25/12) Selepas turun dari kapal ferri di Pelabuhan Bakauheni, saya makan malam dahulu di rumah makan Masakan Padang di ujung pintu keluar. Walaupun saya sudah ditawari oleh calo atau agen bus dan travel saya tidak peduli. Urusan perut mesti didahulukan, apalagi perjalanan ke Bandarlampung masih 2,5 jam lagi.

Di samping urusan mengisi perut, sekaligus untuk mencari informasi jenis transportasi yang bisa digunakan Maklum sudah 24 tahun saya tidak merambah jalur Sunda dan jalan darat ke Bandarlampung. Sambil menikmati makan saya dapat informasi bahwa sekarang ada travel ber-AC, di samping bus umum. Saya pikir travel akan lebih aman karena diantar langsung ke alamat. Berarti saya tidak harus turun di terminal Rajabasa Bandarlampung yang terkenal angker dengan premannya. Dan saya tidak perlu bingung mencari alamat yang dituju, karena akan diantar oleh sampai di tempat. Ongkos lumayan murah untuk jarak Bakauheni-Bandarlampung sejauh 90 km hanya Rp 35.000.

Begitu keluar di mulut pintu keluar rumah makan sudah menunggu petugas agen travel. Saya langsung ditarik menuju travel dengan minibus jenis Daihatsu Grandmax. Saya lihat plat nomor berwarna kuning, dan ada nama perusahaan travelnya. Jadi memang travel resmi. Ada beberapa perusahaan travel yang melayani penumpang dari Bakauheni-Bandarlampung dan sebaliknya. Menurut informasi layanan angkutan travel tersedia selama 24 jam.

Saya memilih duduk di depan, di samping sopir. Tidak lama kemudian ketika kendaraan hendak berangkat dan sopir siap menjalankan kendaraan, pintu samping saya diketuk seseorang. Memberi isyarat pintu untuk dibuka. Setelah pintu saya buka, orang itu langsung duduk di samping saya sambil berujar ‘’… geser dikit, pak!’’ Lalu orang itu duduk di samping saya, sesak rasanya pantat ini, karena tempat duduk untuk satu orang dipaksa dipakai dua bokong.

Biasanya di dunia maya saya biasa mengajak orang-orang untuk saling berbagi. Saat itu saya diuji untuk berbagi tempat duduk bagi dua pantat. Tapi standar tempat duduk khan hanya untuk satu orang? Haruskah saya berbagi tempat duduk untuk dua pantat selama 2,5 jam perjalanan? Duh betapa tersiksanya! Ketika saya berbagi di blog atau pun di facebook saya merasakan kenyamanan dan kepuasaan. Tapi saat ini saya harus berbagi dengan keterpaksaan dan kesengsaraan.

Tanpa berpikir panjang lalu saya bilang, ‘’mas tujuan mana? Kalau saya harus seperti ini sampai Bandarlampung, saya tidak mau!’’ Saya mulai berontak. ‘’Saya cuman ikut sampai depan pak, di Penengahan hanya 5 km koq…’’ Saya semakin dongkol. Kalau dibilang cuman sampai depan, perkiraan saya hanya sampai luar area pelabuhan. Eh ini sampai Penengahan. Dikira saya tidak tahu daerah mana itu, Penengahan dari Bakauheni jaraknya paling tidak 10 km.

Kendaraan mulai bergerak keluar pelabuhan. Sambil menahan panas pantat yang berhimpitan di jok mobil, semakin panas kuping ini mendengar pembicaraan antara sopir dan penumpang gelap itu. Mereka terus berceloteh dengan suara keras sampai penumpang gelap itu sampai tujuan. Sementara saya menjadi pendengar setia. Ternyata mereka sesama sopir, penumpang gelap itu hendak pulang ke rumah setelah seharian bekerja.

Karena ini travel resmi, mestinya sopir yang minta ijin kepada saya jika ada kawannya yang mau ikut. Tidak main nyelonong saja. Toh, jika minta ijin tidak mungkin saya menolaknya. Dengan mengajukan ijin maka akan muncul keikhlasan saya untuk berbagi, walau pantat ini didera panas karena himpitan.

Seperti juga ketika menulis di blog, berangkat dari keikhlasan dan tidak ada yang membayar. Karena ikhlas maka menulis dan berbagi menjadi nikmat. Tidak pernah menulis blog, tetapi hati menyesali perbuatan menulis.

Kita memang harus terus berbagi. Tapi ya, jangan kayak gini!