foto 25 agt 05 060Yogyakarta (20/02) Prinsipnya semua mata pelajaran berdasarkan standar isi program Paket C harus memiliki atau ada nilainya pada dokumen Laporan Hasil Belajar. Bagi kelompok belajar yang tidak bisa menyajikan kegiatan pembelajaran tatap muka dan tutorial semua mata pelajaran karena berbagai sebab, wajib melakukan kegiatan belajar mandiri bagi warga belajarnya. Sehingga warga belajar memiliki dokumen nilai hasil belajar dari kegiatan belajar mandiri. Bagaimana caranya?

Pada kesempatan yang lalu pernah dijelaskan bagaimana melakukan pemetaan SKK dan menyajikan jadwal mata pelajaran Paket C. Berdasarkan pemetaan satuan kredit kompetensi (SKK) yang menggunakan pendekatan blok dalam struktur kurikulum akan ditemukan mata pelajaran mana yang dilakukan secara mandiri. Pemetaan SKK menggunakan pendekatan blok dalam struktur kurikulum akan sangat bermanfaat bagi penyelenggara Paket C yang menyediakan jam belajar di kelas beberapa hari dalam satu minggu, tidak penuh satu minggu pembelajaran. Bahkan yang bisa menyajikan lima hari pembelajaran dalam seminggu, harus melakukan kegiatan belajar mandiri untuk beberapa mata pelajaran.

Persoalannya, penyelenggara tidak bisa mengklaim sebuah atau beberapa mata pelajaran dimandirikan atau dilakukan kegiatan belajar mandiri, jika tidak diikuti dengan dokumen pendukung.

Berdasarkan standar proses pendidikan kesetaraan (Permendiknas nomor 03 Tahun 2008), pada langkah pendahuluan pembelajaran mandiri ada tahapan tutor bersama peserta didik merancang kegiatan belajar mandiri yang dituangkan dalam bentuk kontrak belajar yang mencakup standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD), jenis tugas, dan waktu penyelesaian. Kata kuncinya adalah adanya kontrak belajar. Kontrak belajar ini mutlak harus ada jika penyelenggara memutuskan sebuah mata pelajaran dilakukan kegiatan belajar mandiri, dimana mata pelajaran tersebut tidak ada dalam sajian jadwal pertemuan mingguan kelas.

Format kontrak belajar dapat diunduh disini. SK dan KD pada format bisa diisi dengan SK dan KD sesuai yang ditempuh pada semester berjalan dan diambil atau disalin dari silabus Program Paket C.

Pada pelaksanaan kegiatan belajar mandiri warga belajar melakukan kegiatan belajar sendiri dan atau bisa dibimbing orang lain di luar jam belajar kelompok berdasarkan kontrak belajar dan modul. Dalam kegiatan pembelajaran mandiri ini, peserta didik (1) melaksanakan kegiatan belajar mandiri sesuai dengan kontrak belajar yang mencakup SK dan KD, jenis tugas, dan waktu penyelesaian; (2)  mengerjakan tugas-tugas yang terdapat pada modul; (3)  secara periodik melaporkan kemajuan belajar untuk mendapatkan umpan balik dari pendidik; (4) menyerahkan portofolio hasil belajar sebagai bahan penilaian pencapaian SK dan KD oleh pendidik.

Karena mata pelajaran yang dijadikan kegiatan mandiri harus ada nilainya, maka tutor harus melakukan penilaian terhadap hasil kegiatan belajar mandiri. Yaitu melakukan penilaian tengah semester dan akhir semester. Dengan demikian, ada proses penilaian yang dilakukan secara nyata. Tidak sekedar membuat nilai pada Laporan Hasil Belajar atau sering disebut dengan ‘’ngaji’’ (ngarang biji alias mengarang nilai).

Ketika dilakukan penilaian tengah semester dan pemeriksaan tugas atau portofolio maka tutor akan mampu memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil belajar. Jika hasil penilaian dinyatakan belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) maka tutor dapat melakukan kegiatan tindak lanjut melalui layanan pengajaran perbaikan, pemberian materi pengayaan, dan/atau pelayanan konseling baik secara individual maupun kelompok sesuai dengan hasil kegiatan belajar mandiri peserta didik.

Jadi, memperhatikan uraian tentang kegiatan belajar mandiri pada pendidikan kesetaraan menurut Permendiknas dapat disimpulkan bahwa kegiatan belajar mandiri dimaksud bukan sekedar penugasan atau tugas mandiri terstruktur yang bisa menjadi bagian dari pembelajaran tatap muka. Namun memang benar-benar dirancang warga belajar melakukan kegiatan belajar sendiri baik tanpa tutor (menggunakan modul) atau meminta bimbingan orang lain. Misalnya ‘’berguru’’ pada ustadz pada mata pelajaran Pendidikan Agama, jika mapel tersebut dijadikan kegiatan belajar mandiri.