Asahpena DIYYogyakarta (21/12) Jumat, 21 Desember 2012 bertempat di Hotel Gowongan Inn, Pengurus Asosiasi Sekolah Rumah Dan Pendidikan Alternatif (ASAHPENA) Daerah Istimewa Yogyakarta dikukuhkan oleh Sekjen Asahpena Pusat, Ir. Budi Trikorayanto,MM. Asahpena DIY dipimpin Kusnanto, MM dan Sekretaris Endang Rochjiani, SH. Dalam kesempatan itu juga dilakukan acara parents meeting Homeschooling Primagama dan dialog interaktif.

Homeschooling atau sekolahrumah sebagai salah satu bentuk pendidikan nonformal atauinformal di Indonesia semakin mendapatkan peran dan pengakuannya oleh masyarakat maupun negara. Pemerintah semakin peduli dalam melindungi dan mengakui hak para pelaku homeschooling dalam akses pendidikan di Indonesia. Hal mana secara yuridis pelaku sekolahrumah juga mendapatkan pengakuan dari negara, walau dalam beberapa hal yang bersifat teknis administrasi terkadang mengalami kendala.

Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekjen Asahpena Pusat, Ir. Budi Trikorayanto,MM. Kak Seto menjelaskan bahwa Asahpena akan terus mengawal dan mengoordinasikan komunitas sekolahrumah agar mampu melakukan pembelajaran secara optimal dan mendapatkan pengakuan dari berbagai pemangku kepentingan, khususnya satuan pendidikan formal dan pemerintah. Ditegaskan pula bahwa Asahpena dalam perannya sebagai asosiasi para pelaku sekolahrumah di Indonesia memposisikan diri selaku mitra pemerintah dalam melayani masyarakat dalam pendidikan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga DIY, Drs. Kadarmanta Baskara Aji dalam dialog menegaskan bahwa pemerintah selaku pemegang amanat masyarakat akan berkomitmen secara penuh dalam memberikan hak-hak warga negara dalam upaya memperoleh pendidikan. Baik dalam jalur formal, nonformal maupun informal. Semua jalur pendidikan ini diakui sama sederajat dan diakui secara penuh dalam undang-undang sistem pendidikan nasional, begitu ungkapnya.

Dalam teropong pendidikan luar sekolah, homeschooling adalah sesuatu yang positif ketika model ini mulai berkembang di Indonesia. Hal ini semakin menguatkan fungsi keluarga sebagai penanggungjawab pendidikan anak. Model ini juga bisa menjadi solusi bagi anak-anak yang tidak bisa bersekolah secara formal. Hal itu dikatakan oleh Entoh Tohani, MPd salahsatu pembicara yang juga dosen Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Yogyakarta. Ini adalah solusi bagi anak-anak yang tidak bisa bersekolah secara formal dalam pendidikan formal, demikian katanya.

Ir. Kusnanto, MM Direktur Homeschooling Primagama (HSPG) yang dalam kepengurusanAsahpena DIY didaulat sebagai Ketua Periode 2012-2014 ini mengatakan ikut bangga dalam peran sertanya sebagai pelopor pendidikan alternatif di Yogyakarta khususnya dan Indonesia. Primagama yang lahir dan besar di Yogyakarta semakin meneguhkan Yogya sebagai kota pendidikan. Harapannya Asahpena di Yogyakarta akan menjadi mitra strategis pemerintah dalam pelayanan pendidikan kepada masyarakat Yogya pada khususnya dan kedepan pendidikan nonformal bisa menjadi acuan pendidikan anak secara nasional.

Kusnanto juga mengatakan bahwa HSPG saat ini semakin mendapat pengakuan dari masyarakat. Sekarang sudah ada 15 Cabang HSPG di seluruh Indonesia. Dalam layanannya HSPG menggunakan kurikulum nasional dan juga kurikulum international melaluiCambridge Curriculum. Untuk Cabang Yogya sendiri sekarang ada 299 siswa dari berbagai tingkatan setara SD SMP dan SMA.

HSPG sudah pernah meluluskan siswa sebanyak tujuh kali Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan dan semua lulus seratus persen. Saat ini alumni HSPG sudah ada yang kuliah baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta favorit di Yogyakarta maupun kota lain di Indonesia. Tentu kami sangat bangga bisa melayanai pendidikan masyarakat dan bisa menjadi solusi dari berbagai kendala pendidikan mereka. Harapannya HSPG bisa menjadi acuan dalam pendidikan nonformal dan informal di Indonesia, begitu ungkapnya.(rif/fep)