batam-travel-map2Yogyakarta (01/10) Apresiasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) PAUDNI sekarang semakin seksi. Bagaimana tidak? Sejak tahun 2012 penghargaan yang diberikan kepada juara I kategori perorangan adalah uang sebesar 20 juta, plus studi banding ke luar negeri pada tahun berikutnya (China, Turki atau Australia). Sebuah penghargaan yang menggiurkan bagi setiap insan PTK PAUDNI.

Tahun ini, ketika penyelenggaraan puncak Apresiasi PTK PAUDNI diselenggarakan di Batam gairah peserta semakin tinggi. Hadiah uang pembinaan menjadi semacam magnet, sehingga PTK PAUDNI bersungguh-sungguh menyiapkan diri, menuliskan karya nyata dan karya tulisnya untuk diadu di depan dewan yuri.

Beberapa daerah sudah menyiapkan peserta dengan melakukan seleksi dari tingkat kabupaten/kota dan provinsi, bahkan beberapa bulan sebelum pelaksanaan tingkat nasional. Namun ada juga provinsi yang main tunjuk peserta karena minimnya anggaran untuk seleksi tingkat provinsi.

Pada puncak Apresiasi PTK PAUDNI tanggal 2-8 Oktober 2013 di Batam boleh jadi akan menjadi ajang reuni bagi sebagian peserta. Tidak sedikit peserta yang pernah mengikuti kegiatan Apresiasi PTK PAUDNI (dulu Jambore PTK PNF) sebanyak dua atau tiga kali. Bahkan salah satu juara pertama tahun 2012 mengaku sudah mengikuti selama tiga kali. Memang hal tersebut tidak melanggar aturan, karena yang dilarang ikut serta adalah juara pertama tahun sebelumnya.

Tidak sedikit pula peserta yang mengikuti ajang tersebut berkali-kali dan belum pernah juara. Akhirnya ketemu lagi dan ketemu lagi. Nanti bertemu lagi di Batam. Dan ada kesempatan untuk plesiran ke Singapura, entah dapat meraih penghargaan atau tidak.

Ketika ada peserta dari provinsi yang mengikuti Apresiasi PTK PAUDNI sampai beberapa kali, yang patut dipertanyakan adalah bagaimana pembinaan dan kaderisasi PTK PAUDNI di daerah. Walau tidak dipungkiri mencari bibit PTK PAUDNI untuk diajukan ke tingkat nasional beberapa provinsi merasakan kesulitan.

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pernah mengambil kebijakan setiap juara pertama provinsi tidak boleh mengikuti seleksi tingkat provinsi untuk tahun berikutnya. Maksudnya agar kontingen berganti dari tahun ke tahun dan memberi kesempatan bergiliran untuk tampil di tingkat nasional. Akhirnya pada edisi tahun 2012 kehabisan stok karena jumlah PTK PAUDNI yang sedikit di wilayah DIY, sehingga prestasi DIY terbenam di pentas nasional.

Pementasan PTK PAUDNI secara bergantian ke tingkat nasional ternyata memberikan efek positif bagi perkembangan pendidikan nonformal di daerah. Ketika rumus 4L (lu lagi lu lagi) tidak diberlakukan, semakin banyak PTK PAUDNI yang memiliki pengalaman di pentas nasional dan itu memberikan rasa kepercayaan diri meningkat sehingga pelayanan bagi perseta didik juga meningkat serta semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya.

Kembali ke persoalan, PTK PAUDNI se-Indonesia yang akan beradu karya nyata dan karya tulis di Batam akan mencari apa? Berburu hadiah puluhan juta plus studi banding ke luar negeri? Berbagi pengalaman? Mendapatkan pengalaman? Atau sekalian plesiran ke Singapura? Hanya hati masing-masing pesertalah yang bisa menjawab.