IMG_20150421_133330Yogyakarta (21/04/15) Proses seleksi peserta Apresiasi PTK PAUDNI Berprestasi Tahun 2015 sudah dimulai di tingkat kabupaten/kota dan provinsi di berbagai daerah. Berdasarkan pengamatan masih ada kesalahan fatal dalam menuangkan pengalaman nyata ke dalam bentuk naskah tulisan. Kesalahan tersebut bisa mengakibatkan naskah tidak memiliki nilai kompetitif di ajang Apresiasi PTK PAUDNI tingkat nasional.

Kesalahan fatal tersebut adalah ketidaksesuaian naskah dengan tema lomba yang ditetapkan oleh panitia pusat. Pemahaman terhadap tema untuk setiap jenis karya nyata masih sangat lemah, untuk itulah perlu kejelian pendamping atau narasumber pemusatan latihan di tingkat kabupaten/kota atau provinsi untuk meluruskan agar karya nyata sesuai dengan tema yang diharapkan.

Misalnya, karya nyata instruktur kursus adalah fokus pada inovasi pembelajaran. Namun masih banyak yang menuliskan inovasi produknya, misalnya resep masakan atau inovasi memasaknya pada karya nyata instruktur tata boga. Padahal yang betul adalah inovasi pembelajaran, bisa pada inovasi metode pembelajaran, media yang digunakan atau alat penilaian pembelajaran.

Perlu diketahui karya nyata instruktur tata boga penilaian difokuskan pada inovasi pembelajaran dan bagaimana menyiapkan, melakukan dan menilai pembelajaran tata boga. Bukan melakukan demo memasak.

Kelemahan peserta lainnya adalah tidak cermat membaca pedoman penilaian yang sudah dikeluarkan oleh Direktorat PPTK PAUDNI. Dalam pedoman sudah jelas disebutkan bahwa dasar yang digunakan adalah ikan (laut/tawar) dengan bahan pelengkap nabati, tapi masih saja ada yang menyajikan bahan di luar ikan. Di sinilah calon instruktur berprestasi sudah mulai diuji, apakah mampu membaca pedoman dengan cermat atau tidak.

Begitu pula pada jenis instruktur kursus lainnya, ada ketentuan teknis pada pelaksanaan terkait materi yang harus disajikan pada praktek pembelajaran. Pada tataran ini peserta lomba karya nyata harus jeli membaca petunjuk teknis penilaian.

Berdasarkan pengalaman dari tahun ke tahun naskah yang ditulis oleh peserta memenuhi ketentuan sekitar 30%-40% dari seharusnya. Jika tanpa dilakukan sentuhan atau pembuatan pada pemusatan latihan di tingkat provinsi, bisa dipastikan naskah tersebut tidak bisa berbicara banyak di ajang Apresiasi PTK PAUDNI Berprestasi tingkat nasional.

Kelemahan lainnya dari kelompok instruktur kursus adalah rendahnya kualitas silabus dan rencana pembelajaran (RPP). Hal ini dipahami bahwa sebagian besar instruktur kursus di lapangan, terutama yang belum terakreditasi, belum memiliki silabus dan RPP. Jika pun ada, kualitas silabus dan RPP masih memprihatinkan. Padahal pada instrumen penilaian karya nyata ada indikator penilaian terkait dengan silabus dan RPP yang disusun dalam naskah.

Pada tataran itulah pembimbing di tingkat provinsi harus mampu memberikan bimbingan agar karya nyata instruktur kursus tidak terjebak semata pada inovasi produk tapi inovasi pembelajaran. Persoalan yang harus diangkat adalah persoalan faktual yang terjadi pada praktek pembelajaran di lembaga kursus. Berdasarkan persoalan faktual tersebut kemungkinan muncul ide inovasi pembelajaran agar pembelajaran dapat mencapai tujuan pencapaian kompetensi kursus secara efektif.

Sudah barang tentu ide inovasi pembelajaran kursus yang bersifat orisinal atau keaslian karya akan memiliki nilai lebih dibanding inovasi pembelajaran yang biasa-biasa atau mungkin sudah pernah dilakukan oleh orang lain sebelumnya.