homeschoolingYogyakarta (15/11) Ada anggapan bahwa yang menyatakan bahwa peserta didik homeschooling melakukan belajar mandiri hampir 100%. Hal ini seakan mengkritisi regulasi pemerintah terkait pendidikan kesetaraan dimana pembelajaran bentuk mandiri maksimal 50%, sisanya minimal 20% tatap muka dan 30% tutorial.

Tapi benarkah pesekolahrumah melakukan belajar mandiri hampir 100%? Saya rasa tidak. Proses belajar sebagai sebuah proses perubahan perilaku dan pemerolehan pengetahuan, sikap dan keterampilan tidak akan lepas dari proses ekplorasi, elaborasi dan konfirmasi. Belajar pada hakekatnya adalah mencari dan mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Namun perlu dikonfirmasi apakah pemerolehan hasil belajar (yang masih dalam tahapan proses) sudah benar atau tidak.

Pada proses ekplorasi peserta   didik   mencari   informasi yang luas dan mendalam   tentang   topik/tema   materi   yang   dipelajari   dari berbagai sumber belajar dengan memanfaatkan alam dan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar (alam takambang jadi guru). Sedangkan pada proses eksplorasi peserta didik mengerjakan tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis, serta berpikir, menganalisis, memecahkan masalah. Hasil eksplorasi dan elaborasi perlu dilakukan konfirmasi untuk memastikan bahwa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperoleh sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.

Sangat mustahil tanpa ada proses konfirmasi,  bahkan dalam proses eksplorasi dan elaborasi, proses belajar mandiri dapat mencapai kompetensi dasar yang diharapkan.

Secara praktisnya, orangtua pesekolahrumah tunggal seringkali mengundang guru les ke rumah untuk membantu anak dalam belajar. Ketika guru les datang ke rumah sudah terjadi proses belajar tatap muka atau tutorial. Pun ketika orang tua membimbing anak sekolahrumah dalam belajar sudah merupakan bentuk pembelajaran tatap muka. Pembelajaran tatap muka sebagaimana diatur dalam standar proses pendidikan kesetaraan tidak hanya dipahami secara klasikal. Pembelajaran oleh seorang pendidik (orang tua/guru les) kepada anak sekolahrumah sudah merupakan bentuk tatap muka, boleh jadi juga berbentuk tutorial.

Jadi menurut saya, tidak ada pesekolahrumah yang melakukan 100% belajar mandiri. Pun penggunaan media online untuk belajar, yang dilakukan sebagian pesekolahrumah komunitas, juga termasuk belajar tatap muka. Pada pasal 119 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, disebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dapat menggantikan  pembelajaran  tatap  muka dengan interaksi pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi, meskipun tetap memungkinkan adanya pembelajaran tatap muka secara terbatas.

Begitu pula pada sekolahrumah komunitas, sudah jelas bahwa pembelajaran tidak 100% dilakukan secara mandiri. Karena pada sekolahrumah komunitas diselenggarakan kegiatan pembelajaran tatap muka (dan atau tutorial) baik anak datang ke lembaga atau mendatangkan guru les ke rumah.