Analisis Modul: Langkah Penting Pengembangan Silabus Berbasis Modul

Contoh format analisis modul

Yogyakarta (22/07/2019) Pengembangan silabus merupakan salah satu langkah dalam perencanaan pembelajaran. Sebelum melakukan pengembangan silabus kurikulum 2013, tutor atau pendidik diharuskan melakukan analisis modul. Mengapa harus melakukan analisis modul? Dan bagaimana caranya?

Perencanaan pembelajaran terdiri dari dua kegiatan, yaitu pengembangan silabus dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pada perencanaan silabus disebut pengembangan silabus karena pemerintah sudah menyediakan model silabus yang disusun berdasarkan kontekstualisasi kompetensi dasar kurikulum 2013 pendidikan kesetaraan. Silabus yang disusun tersebut terdiri dari lima komponen, yaitu kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, materi dan langkah pembelajaran. Silabus tersebut belum bisa digunakan oleh satuan pendidikan karena komponen belum lengkap sesuai dengan standar nasional pendidikan yang terdiri paling tidak terdiri dari delapan komponen komponen, yaitu kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Lebih dari itu silabus yang disusun pemerintah masih berupa model, yang harus disesuaikan lagi oleh satuan pendidikan. Karena itulah dalam perencanaan pembelajaran disebut pengembangan silabus.

Sedangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun sendiri oleh tutor sesuai dengan skenario pembelajaran yang akan dilakukan. Pemerintah tidak menyediakan model RPP sebab ragam pembelajaran sangat bervariasi menyesuaikan hasil analisis konteks setiap satuan pendidikan. Karenanya tahapan perencanaan RPP disebut dengan penyusunan RPP, bukan pengembangan RPP.

Pembelajaran pendidikan kesetaraan pada kurikulum 2013 menggunakan modul sebagai delivery system-nya. Setiap mata pelajaran sudah disediakan modul yang dapat digunakan peserta didik untuk belajar mandiri dan atau dikombinasikan pembelajaran tatap muka dan tutorial. Penggunaan modul sebagai basis pembelajaran kurikulum 2013 pendidikan kesetaraan mempengaruhi beberap

Pada kurikulum lama pendidikan kesetaraan, modul dipenggal setiap semester. Pengertian dipenggal adalah dokumen silabus setiap mata pelajaran disusun per semester dan diakhir dokumen silabus semester tersebut dibubuhi tanda tangan tutor dan Kepala SKB/Ketua PKBM. Misalnya Paket C pada kurikulum lama mata pelajaran Bahasa Indonesia terdiri atas enam buku silabus, karena terdiri dari enam semester.

Pemenggalan atau penyajian silabus pada kurikulum 2013 tidak per semester melainkan per modul. Artinya setiap modul satu silabus. Dalam satu tahun ajaran setiap mata pelajaran lima modul, sehingga terdapat lima dokumen silabus untuk setiap mata pelajaran.

Silabus sebagai sebuah rancangan awal pembelajaran terkoneksi dengan modul sebagai delivery system pembelajaran. Dalam silabus memuat pasangan kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik setelah mempelajari modul atau mengikuti pembelajaran berbasis modul. Persoalannya adalah bahwa modul tidak (semua) memberikan informasi pasangan kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik. Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemdikbud sudah memetakan kompetensi dasar ke dalam setiap modul. Modul disusun oleh penulis berdasarkan peta kompetensi dasar tersebut. Karena itulah tutor atau pendidik perlu melakukan analisis modul sebelum mengembangkan silabus. Contoh format analisis modul dapat diunduh pada tautan di akhir tulisan ini.

Analisis modul dilakukan dengan menyandingkan modul dan silabus. Penyandingan modul dan silabus ini dilakukan untuk menemukan pasangan kompetensi dasar yang dimuat di dalam modul.  Berikut ini tahapan dalam menganalisis modul dalam rangka mengembangkan silabus kurikulum 2013 pendidikan kesetaraan.

  1. Setelah kompetensi dasar ditemukan, tuliskan rumusan kompetensi dasar apa adanya pada format analisis modul. Dalam satu modul bisa saja terdiri dari satu pasangan kompetensi dasar, bisa juga lebih dari satu pasangan kompetensi dasar. Oleh karena itu perlu kejelian dari tutor untuk membaca tuntas modul dan mencermati silabus. Urutan modul dan silabus boleh jadi tidak sama. Artinya kode kompetensi dasar harus tidak berurutan dalam silabus, karena pemetaan kompetensi dasar dalam modul belum tentu sama urutannya dengan silabus. Prinsipnya, urutan dan pemenggalan modul dijadikan acuan dalam mengembangkan silabus.
  2. Tuliskan indikator ke dalam format analisis modul. Rumusan indikator bisa menyesuaikan berdasarkan analisis konteks satuan pendidikan. Berbeda dengan rumusan kompetensi dasar yang harus sesuai apa adanya, indikator pencapaian kompetensi bisa dilakukan penyesuaian. Acuan perubahan rumusan indikator pencapaian kompetensi mengikuti ketentuan penyusunan indikator pencapaian kompetensi. Ketentuan adalah (a) indikator dirumuskan dari KD; (b) menggunakan kata kerja operasional (KKO) yang dapat diukur; (c) dirumuskan dalam kalimat yang simpel, jelas dan mudah dipahami; (d) tidak menggunakan kata yang bermakna ganda; (e) hanya mengandung satu tindakan dan satu materi; (f) memperhatikan karakteristik mata pelajaran, potensi dan kebutuhan peserta didik, satuan pendidikan, masyarakat dan lingkungan.
  3. Tuliskan materi pembelajaran sesuai dengan yang termuat di dalam modul dan indikator pencapaian kompetensi. Bagaimana jika materi di dalam modul tidak sesuai dengan indikator? Modul berbeda dengan buku teks dalam mana uraian sangat terinci. Muatan modul adakalanya meminta peserta didik untuk mencari dan menemukan materi dari buku lain atau sumber belajar lainnya. Karena itu perlu dicek lebih teliti apakah penugasan untuk itu sudah ada atau belum. Jika belum ada permintaan untuk mendalami materi yang dianggap tidak ada, maka tugas tutor untuk menambahkan materi bisa dengan penugasan atau tatap muka (penyampaian materi).
  4. Tuliskan kegiatan pembelajaran. Pada tahap inilah tutor harus lebih jeli dalam menuliskan rumusan kegiatan pembelajaran. Kalimat yang dituangkan dalam kolom kegiatan pembelajaran harus menggambarkan aktivitas yang sesungguhnya dalam pelaksanaan belajar mengajar di kelas. Oleh karena itu perlu dicermati apakah langkah kegiatan pembelajaran sama dengan alur yang termuat di dalam modul. Jika tidak sama, maka tutor harus mengambil sikap dalam menuliskan kegiatan pembelajaran: akan mengikuti model silabus atau mengikuti alur modul? Ketika mengikuti model silabus (yang sudah disediakan pemerintah) maka modul akan dijadikan buku bacaan atau sumber belajar jika alur kegiatan pembelajaran tidak sama. Jika tutor menetapkan pembelajaran dilakukan dengan tatap muka dan atau tutorial maka sejatinya langkah pembelajaran di dalam modul tidak akan sama dengan kegiatan pembelajaran di silabus. Modul sebagai delivery system pendidikan kesetaraan prinsipnya dilakukan untuk belajar mandiri. Karena itulah jika tutor menggunakan proses belajar tatap muka dan atau tutorial ia akan melakukan penyesuaian sebab modul bisa tidak sama alurnya dengan kegiatan pembelajaran yang dikehendaki. Namun bisa saja tutor menggunakan modul sebagai alur pembelajaran. Jika ini yang dipilih maka tutor harus merubah rumusan kegiatan pembelajaran, tidak sama dengan rumusan pada kolom kegiatan belajar sebagaimana tertulis dalam model silabus pemerintah. Hal lain yang tidak kalah penting adalah bahwa rumusan kegiatan pembelajaran menggambarkan bentuk pembelajaran tatap muka, tutorial atau belajar mandiri.
  5. Cermati setiap langkah kegiatan pembelajaran dan identifikasi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan setiap langkah pembelajaran tersebut. Satuan waktu yang dituliskan dalam kolom analisis modul (dan kolom silabus) adalah jam pelajaran (JPL). Pada butir di atas sudah disebutkan bahwa penting untuk menemukenali setiap kegiatan pembelajaran termasuk bentuk pembelajaran tatap muka, tutorial atau mandiri. Jika sebuah kegiatan pembelajaran termasuk bentuk pembelajaran tatap muka dan memerlukan alokasi waktu sebesar 1 JPL maka tuliskan angka 1 pada kolom TM (tatap muka). Jika rumusan kegiatan pembelajaran termasuk kategori tutorial dan diperlukan waktu sebesar 1 JPL maka tuliskan angka 2 pada kolom TT (tutorial). Jika sebuah kegiatan pembelajaran ditetapkan berbentuk kegiatan belajar mandiri dan membutuhkan waktu belajar 3 JPL maka tuliskan angka 3 pada kolom M. Jumlah JPL tatap muka dan tutorial dijumlahkan. Misalnya mata pelajaran yang dianalisis modulnya memiliki bobot 2 SKK, maka jumlah alokasi waktu yang tersedia adalah 2  SKK X 6 minggu = 12 JPL. Masih ingat kenapa 6  minggu setiap modul? Baca tautan ini. Jumlah alokasi waktu keseluruhan (tatap muka dan tutorial) harus sama dengan 12 JPL. Jika ternyata alokasi waktu yang dibutuhkan berdasarkan analisis modul ditemukan 16 JPL, maka harus ada kegiatan pembelajaran yang dirubah dari pembelajaran tatap muka/tutorial menjadi belajar mandiri. Alokasi waktu belajar mandiri tidak dimasukkan dalam perhitungan total, sebab belajar mandiri tidak terjadwal pertemuan di kelas.
  6. Langkah terakhir analisis modul: menemukan bentuk penilaian di dalam modul. Penilaian hasil belajar kurikulum 2013 terdiri dari penilaian dimensi pengetahuan untuk mengukur pencapaian kompetensi dasar pengetahuan (KD 3.x) dan penilaian dimensi keterampilan untuk mengukur pencapaian kompetensi dasar keterampilan (KD 4.x). Di samping itu pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan dilakukan penilaian dimensi sikap spritual (KD 1.x) dan dimensi sikap sosial (KD 2.x). Setiap modul sudah mencantumkan instrumen penilaian baik berupa penugasan maupun tes. Oleh karena itu tutor tinggal menemukan bentuk penugasan dan tes untuk menilai capaian kompetensi pengetahuan, serta penugasan untuk menilai capaian kompetensi keterampilan. Instrumen tes ujian modul dapat diambil dari modul atau tutor mengembangkan instrumen sendiri. Jika tutor menggunakan instrumen penilaian dari modul, maka cukup dituliskan bentuk penilaian/tagihan dan pada halaman berapa instrumen tersebut dicantumkan.

Jika analisis modul ini sudah dilakukan, maka tinggal menuangkan ke dalam format silabus. Pada bagian akhir silabus bubuhkan tanda tangan tutor dan mengetahui Kepala SKB/Ketua PKBM. [fauziep]

Silahkan unduh format analisis modul dalam Word atau Excel, paparan materi “Pengembangan Silabus dan Penyusunan RPP” serta silabus K13 Paket A, Paket B dan Paket C:

  1. Format analisis modul (Word);
  2. Format analisis modul (Excel);
  3. Paparan (ppt) “Pengembangan Silabus dan Penyusunan RPP”;
  4. Silabus K13 Paket A;
  5. Silabus K13 Paket B;
  6. Silabus K13 Paket C.

7 tanggapan pada “Analisis Modul: Langkah Penting Pengembangan Silabus Berbasis Modul”

        1. RPP disusun oleh satuan pendidikan sesuai dengan analisis modul, jadi bisa beda antara satu dan lainnya.

Komentar ditutup.