foto - aliansiOleh Edi Basuki

Bisakah IPABI, IPI, FK-PKBM, HIPKI, HISPPI, Forum Tutor Kesetaraan, Forum Komunikasi Tutor Keaksaraan, HIMPAUDI, ASAHPENA, Forum Taman Bacaan Masyarakat, HPTIK-PNF, duduk bersama membangun aliansi untuk aksi nyata secara bersama? Dengan bahasa yang lain, mungkinkah seluruh forum/asosiasi para insan pegiat  pendidikan nonformal (PNF) bersatu dalam sebuah aliansi?

Pertanyaan ini penting dan sangat menggoda. Mengingat beberapa pegiat PNF yang mempunyai nyali lebih, berani berkomen ria melalui media jejaring sosial facebook, meneriakkan tentang keberadaannya yang terpinggirkan, yang tidak diperhatikan tupoksinya di semua lini, sampai saat ini, hanya sedikit.

Komen-komen nakal itu tidak akan berdampak perubahan, jika hanya berhenti dalam aneka wacana yang berputar di postingan semata. Karena, belum tentu pejabat yang dituju beserta antek-anteknya bisa bermain facebook dan mau menindak lanjuti komen-komen cerdas itu dalam rapat-rapat penyusunan kebijakan.

Untuk itu, jika aliansi ini bisa dibangun, dan semua sepakat untuk berbuat, maka harus segera ditindaklanjuti dengan acara ‘kopi darat’ merancang aksi nyata turun ke jalan, meneriakkan tentang perlunya reformasi dunia PNF, agar keberadaan insan pegiat PNF, wabil khusus pamong belajar SKB dan BPKB beserta penilik, tidak terpinggirkan lagi, nasib karier dan hak-haknya pun semakin diperhatikan oleh APBD maupun APBN, sehingga bisa melaksanakan tupoksinya secara optimal tanpa rasa galau.

Sungguh, aksi turun ke jalan pun bisa dilakukan dengan beradab sopan tanpa mengganggu ketertiban lalu lintas. Ya, sesungguhnyalah, melakukan demonstrasi pun kiranya tidak wajib ada acara bakar-bakar ban, membajak metromini dan bentrok fisik dengan aparat.

Sebagai pembelajar, cara turun ke jalannya harus lain, harus mengedepankan kesantunan, kecuali terpaksa. Cukup berjalan tertib sambil membentangkan spanduk berisi aneka tuntutan, dengan berarak-arak melewati kantor media massa, seperti Kompas, Tempo, Republika, RRI, El-Shinta, MetroTV dan lainnya, agar bisa menarik perhatian para kuli tinta dan kuli disket untuk membuat berita, sehingga diketahui khalayak ramai. Kemudian, tetap dengan tertib bergerak menuju gedung DPR di Senayan sana, menemui Oneng Rieke Dyah Pitaloka, Deddy Gumelar Miing, Vena Malinda, Fahri Hamzah, dan lainnya yang mengurusi bidang pendidikan. Ya, sebagai wakil rakyat, mereka berhak tahu akan karut marut permasalahan dunia PNF, walau senyatanya mereka benar-benar belum tahu PNF sampai menjelang berakhirnya pemerintahan KIB jilid II.

Jika perlu dan mempunyai akses, tidak ada salahnya jika barisan aliansi PNF sowan bersemuka dengan tokoh-tokoh nasional yang kini sedang bernafsu membangun panggung politik pencitraan diri, sebagai persiapan bersaing menjadi presiden di negeri ini, atau menjadi anggota dewan kembali. Sungguh mereka pasti mau membela (minimal mendengarkan) dan kemungkinan juga mendukung akomodasi transportasi dan konsumsi selama aksi. Itu bukan karena peduli, tapi lebih untuk kepentingan dagang sapi.

Namun, jika aliansi yang akan dibentuk masih sekedar upaya membangun semacam ‘sekretariat bersama’untuk saling kenal, tukar informasi dan pengalaman, kemudian baru belajar menyamakan persepsi untuk menggalang aksi, maka, bisa merumuskan sebuah petisi keprihatinan ke berbagai pihak dan media massa, itu kiranya sudah cukup bagus, sekedar memberitahukan kepada khalayak, bahwa PNF itu ada dan bisa beraliansi. Walau belum tentu efektif. Selamt menggagas aliansi, membangun sinergi untuk beraksi demi kemaslahatan insan pegiat PNF. [eBas/humas.ipabipusat_online]