smansal-1Menurut Sri Wiyani, pengelola LKP PCC yang juga guru Ekonomi di SMA Negeri 1 Salaman, hanya sekitar 25% lulusan SMA Negeri 1 Salaman yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Selebihnya kemudian memasuki dunia kerja. Persoalannya ketika masuk dunia kerja mereka kurang memiliki bekal ketrampilan yang cukup untuk bekerja. Karena itulah dibuat terobosan membekali peserta didik melalui penyelenggaraan kursus ketrampilan. Salah satu kursus yang diselenggarakan adalah kursus komputer.

Penyelenggaraan kursus oleh SMA Negeri 1 Salaman tidak menyalahi peraturan perundangan, justru membantu siswa untuk memperoleh pengakuan sertifikasi kompetensi yang tidak diperoleh dari satuan pendidikan formal. Hal ini sejalan dengan nafas bahwa pendidikan nonformal yang berfungsi sebagai penambah pendidikan formal.

Satuan pendidikan kursus komputer yang diselenggarakan di SMA Negeri 1 Salaman diberi nama Lembaga Kursus dan Pelatihan Professional Computer Course (LKP PCC). Sebagaimana lembaga kursus dan pelatihan lainnya, LKP PCC juga memiliki ijin operasional dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Magelang, nomor induk lembaga, akta notaris, dan NPWP. Artinya secara legalitas memenuhi persyaratan sebagai lembaga kursus dan pelatihan.

Penyelenggaraan kursus di SMA Negeri 1 Salaman juga didasari pada kenyataan bahwa jika siswa mengikuti kursus di luar harus mengeluarkan biaya tambahan yang relatif lebih besar. Uang kursus di LKP PCC SMA Negeri 1 Salaman hanya Rp. 5000 per bulan dan dimasukkan dalam uang sekolah yang ditarik setiap bulan. Sehingga selama tiga tahun setiap siswa hanya membayar Rp. 180.000 sudah termasuk biaya untuk mengikuti uji kompetensi. Artinya untuk mengikuti uji kompetensi siswa tidak lagi dikutip lagi biaya tambahan.

Padahal sertifikat kompetensi yang diperoleh melalui uji kompetensi merupakan penanda bahwa seseorang diakui memiliki kompetensi tertentu. Berbekal sertifikat kompetensi itulah lulusan SMA bisa dibantu untuk masuk ke dunia kerja.

Uji kompetensi sudah dilakukan sebanyak dua kali. Uji kompetensi dilaksanakan pada bulan Januari. Sebelum pelaksanaan uji kompetensi diberikan pembelajaran atau kursus di luar jam pelajaran sebanyak dua kali seminggu selama dua bulan. demikian ungkap Sri Wiyani, pengelola LKP PCC SMA Negeri 1 Salaman. Namun demikian di era ujian nasional diklusemas (pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan masyakat)LKP PCC sudah mengikutsertakan peserta didik sejak tahun 2001, namun di era uji kompetensi berdasarkan Permendiknas nomor 70 Tahun 2008 baru dilaksanakan sebanyak dua kali.

Terobosan sekolah yang menyelenggarakan satuan pendidikan nonformal ini juga dilakukan oleh beberapa sekolah antara lain SMK Negeri Wonosari dengan membentuk LKP Kharisma, SMA Negeri Imogiri (LKP Buana Traya), dan SMA Negeri 1 Sragen (LKP Sukses). Terobosan seperti ini tidak perlu disikapi negatif oleh pelaku LKP lainnya, karena LKP yang diselenggarakan sekolah ini berusaha untuk memberikan solusi atas jawaban kebutuhan pasar kerja yang memerlukan persyaratan uji kompetensi. Di samping itu layanan pendidikan yang disediakan biasanya bersifat dasar seperti paket olah kata, olah angka dan presentasi untuk ketrampilan komputer perkantoran. Sedangkan paket ketrampilan yang sifatnya lanjutan masih menjadi segmen pasar LKP lainnya.